Google+ Badge

Sabtu, 27 Jun 2015

5456. Ku ingin keberuntungan.

.
Bismillahirrohmanirrohim
.
اللهُــــــم ۩★۩ صَـلٌ ۩★۩ علَى سَــيدنـا مُحـمَّـدْ ۩★۩ وعلَى آل ســيدنا مُحـمَّـدْ ۩★۩ كما صلٌيت علَى ســيدنـا إِبْرَاهِيـمَ ۩★۩ وعلَى آل سًــيدنــُا إِبْرَاهِيـمَ ۩★۩ وبارك علَى ُسَــيدنـُا مُحــمَّـدْ ۩★۩ وعلَى آل سَـيدنا مُحـمَّــدْ ۩★۩ كما باركت علَى سًـيدنا إِبْرَاهِيمَ ۩★۩ وعلَى آل ًسيدنا إِبْرَاهِيمَ ً۩★۩ فى الْعَالَمِينَ ۩★۩ إن ك حَمِيدٌ مَجِيدْ۩★۩
.
Lima keuntungan bagi orang yg istiqomah menjalankan sholat di awal waktu..

1. menerima rizki yg berkah
2.menerima catatan amal
dari tangan sebelah kanan
3. bebas dari azab kubur
4. meniti sirat secepat kilat dan
5. masuk surga tanpa hisab

amalan yg pertama kali di hisab adalah sholat..jika baik sholatnya maka baik semua amalannya..jika buruk sholatnya maka buruk semua amalannya.

hati" dg azab kubur. jika kita tidak selamat dari azab kubur maka kita takkan selamat dari azab api neraka kubur adalah taman" surga atau jurang" neraka tergantung siapa yg menghuninya..

apabila ia datang dg membawa amal baik maka kubur akan melebar dan luas sejauh mata memandang.akan di bukakan pintu surga hingga berhembuslah angin" surga dan kubur akan berkata selamat datang wahai ahli kubur..aku telah menunggumu..akulah rumah bagimu yg akan engkau tinggali dalam keadaan lapang dan bahagia

jika ia datang dg membawa amalan buruk maka kubur akan menyempit dan menghimpit hingga tulang" rusuknya bersatu berhimpitan saling bersilangan..naudzu billah

kubur akan berkata akulah rumah yg gelap penuh dg cacing dan binatang lainnya yg akan kau tinggali dalam keadaan hina selamanya

duhai saudaraku..
istiqomahkanlah setiap malam sebelum tidur membaca surat al mulk dan as sajdah agar kita terhindar dari azab kubur..

semoga jadi bahan pelajaran dan renungan bagi kita semua

sobahul khoir
#selamatberpuasa...

ANEH & LEBIH ANEH LAGI
Bismillah ..
Aneh ya, ..
Kalau ada lelaki nggak pacaran dibilang homo ..
Kalau ada wanita nggak pacaran dibilang lesbi ..
Sholat tepat waktu dibilang sok alim ..
Minta do'a ibu dibilang anak mami ...
Gonta-ganti pasangan udah biasa ..
cerai menjadi tradisi ..
Yang berzina ngakunya khilaf ..
Yang pake narkoba ngakunya stres ..
Solusi HIV/AIDS pake kondom ..
Nikah dini dibilang kampungan ...
Nggak punya BB dibilang ga gaul ..
Dengernya murottal quran dibilang ga asyik ..
Ikut pengajian dibilang udah tua ..
Masuk rohis disebut teroris ..
Majlis ilmu sepi pengunjung ..
Konser musik berbau maksiat pada gandrung ..
Infak 1000 berat, beli tiket konser 500rb berdesakan ...
Itulah potret negeri ini ..
Semoga kita menjadi orang yang tetap istiqomah dalam kebenaran! ...
Lebih aneh lagi ...
Orang berduyun-duyun mengejar titel ..
Padahal miskin ilmu dan kebijaksanaan ..
Orang berstrategi untuk menipu ..
yang ditipu ga kalah banyaknya ...
Hebatnya ...
Halal haram tak dihiraukan ..
Syubhat diembat ..
Wajib jarang dilakukan ..
Sunah ditinggalkan ..
Nggak korupsi dibilang sok suci ..
Nggak nyogok dibilang ga nyeni ..
Jabatan jadi kesempatan ..
Kekuasaan untuk melanggengkan ..
Kekayaan untuk pamer dan pemuas keserakahan ..
rasa malu telah hilang, rasa berdosa mulai sirna ..
Benarlah Rasulullah mengisyaratkan, ..
Islam itu datang dalam keadaan terasing, dan kembali dalam keadaan asing ...
Beruntunglah, engkau sahabat-sahabatku yang terasing dalam kebenaran ...
Tetaplah di jalan perjuangan ini, walau seperti memegang bara api .. Kebenaran pasti akan dimenangkan-Nya ...


AKU INGIN MEMBACA QUR’AN UNTUK IBUKU
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Sebuah kisah yang menyentuh hati tentang harapan indah seorang ibu kepada anaknya dan bakti sang anak kepadanya.

Ahmad berumur sebelas tahun ketika ibunya (orang tua tunggal) mengantarnya untuk kelas Qira’ati (membaca Al Qur’an). Saya suka anak-anak itu memulai belajar membaca Qur’an di awal usia, terutama anak laki-laki. Aku sampaikan hal itu pada Ahmad. Namun ia menyampaikan alasannya, bahwa ibunya selalu berharap dapat mendengar bacaan Al Qur’an darinya.

Ahmad memulai pelajaran Qira’ati nya dan sejak itu aku berfikir ini merupakan pekerjaan yang sia-sia. Meskipun aku sudah berusaha keras mengajarinya, ia tampaknya belum bisa mengenal huruf-huruf hijaiyah dan tidak bisa menalar bagaimana membacanya.

Namun ia patuh untuk terus membaca Al Qur’an seperti yang kuwajibkan untuk semua murid-muridku.
Dalam beberapa bulan ia terus berusaha sementara aku menyimak bacaannya dan terus menyemangatinya. Di setiap akhir pekan ia selalu berkata: “Ibuku akan mendengarku membaca Al Qur’an suatu hari.”
Di balik itu aku melihatnya tak bisa diharapkan. Ia tidak berbakat!

Aku tak mengenal ibunya dengan baik. Aku hanya sempat melihatnya dari kejauhan ketika ia mengantar atau menjemput Ahmad dengan mobil tuanya. Ia selalu melambaikan tangan kepadaku tapi tak pernah berhenti untuk masuk ke kelas.

Suatu hari, Ahmad berhenti dari mendatangi kelas kami. Aku pernah berniat akan menelponnya tetapi kemudian berfikir mungkin ia memutuskan untuk melakukan hal lain.

Mungkin ia akhirnya menyadari akan ketiadaan bakatnya dalam Qira’ati. Aku juga merasa lega dengan ketidakhadirannya. Ia bisa menjadi iklan yang buruk bagi kelas Qira’atiku!

Beberapa minggu kemudian, aku mengirimkan selebaran kepada murid-muridku di rumah akan adanya acara pembacaan qira’ah Al Qur’an. Tak disangka, Ahmad (yang juga menerima pengumuman itu) menanyakan apakah ia diperkenankan untuk tampil membaca qira’ah Al Qur’an.

Aku menyatakan bahwa sebenarnya acara ini untuk murid yang masih aktif saja dan karena ia sudah tidak pernah hadir lagi, maka ia tidak berhak tampil. Ia menyatakan bahwa ibunya akhir-akhir ini sakit dan tak bisa mengantarnya ke kelas. Ia juga menyatakan bahwa dirinya masih terus berlatih Qira’ati di rumah meskipun tidak masuk kelas

“Ustadzah, … Aku harus ikut membaca qira’ah!,” paksanya kepadaku. Aku tak tahu apa yang menyebabkanku akhirnya memperbolehkannya ikut tampil. Mungkin karena tekad Ahmad yang kuat atau ada bisikan hatiku yang menyatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Malam acara pembacaan qira’ah itu telah tiba. Gedung olah raga sekolah telah dipenuhi para orang tua murid, teman-teman dan sanak saudara. Aku tempatkan Ahmad pada giliran terakhir sebelum aku sendiri yang akan menutup acara dengan ucapan terima kasih dan pembacaan qira’ah penutup.

Aku berfikir bahwa jika penampilan Ahmad merusak acara ini maka itu terjadi di akhir acara dan aku bisa “menyelamatkan” penampilan buruknya dengan penampilanku sendiri.

Pembacaan qira’ah dari murid ke murid berlangsung lancar. Mereka telah berlatih dan itu terlihat dalam penampilan mereka. Kini giliran Ahmad naik ke panggung. Bajunya lusuh tak terseterika dan rambutnya pun acak-acakan tak tersisir rapi. “Mengapa ia tidak berpenampilan rapi seperti murid-murid yang lain?” lintasan pertanyaan buruk sangka langsung bergolak di kepalaku.

“Mengapa ibunya tidak mempersiapkan penampilannya? Paling tidak, sekedar menyisir rambutnya untuk acara istimewa malam ini?”

Ia mulai membaca. Aku sungguh terkejut ketika ia mengumumkan bahwa surat Al Kahfi akan ia bacakan. Aku tak menyangka dan tak siap dengan apa yang kudengar selanjutnya. Suaranya begitu ringan dan lembut.
Qira’ahnya sangat sempurna! Belum pernah kudengar bacaan Al Qur’an seindah itu dari anak-anak seumurnya.

Setelah enam setengah menit ia berhenti …

Penuh haru dan berlinang air mata, aku bergegas ke atas panggung dan memeluk Ahmad dengan gembira. “Aku belum pernah mendengar yang seindah itu Ahmad!

—Sumber:
(www.facebook.com)
























Tiada ulasan: