Selasa, 23 Oktober 2018

Dunia Islam dan cabaran. 8499.


Royal Society of Medicine Elected a Muslim Doctor as President of the ENT Section
https://theislamicinformation.com/president-ent-section-royal-society-medicine/
Royal Society of Medicine Elected a Muslim Doctor as President of the ENT Section  

A British-Pakistani doctor has been elected as president of the Department of Otolaryngology (ENT Section) of the Royal Society of Medicine (RSM) in recognition of his services to the National Health Service (NHS) of the United Kingdom and medical education.

Dr. Shahed Quraishi OBE, an ENT physician consultant, becomes the first Pakistani to be appointed to this position. RSM is one of the most prestigious organizations of high-level British physicians and one of the leading providers of postgraduate medical education in the United Kingdom. He is ready to take over London in two weeks.

Speaking with Geo.tv, Dr. Quraishi said he was elected unopposed by some 500 British doctors, who are members of the ENT section. “I am honored and honored to have this privilege,” he said.

“Being of British-Pakistani origin, it is a great honor for Pakistan and speaks a lot about the contribution of the British Pakistani diaspora, I hope that my elevation will inspire British Pakistani children and others alike,” he said.

Dr. Quraishi is an ENT surgeon who graduated from the Dow Medical College in Karachi, Pakistan, and has been working at the NHS in the United Kingdom for almost 31 years. Prior to that, he also studied at Cadet College Hasan Abdal in Attock, Punjab.

READ  Qatari Muslims can still perform Hajj in Saudi Arabia

He is currently a consultant at Doncaster Royal Infirmary and, in 2016, was appointed first British-Pakistani surgeon as visiting the professor in China. He is also the founder of ENT Masterclass, United Kingdom, which is a free ENT teaching platform, and the largest in the world, currently working in 12 countries, including Pakistan, on 4 continents.

“I have a large teaching participation around the world and I have chaired training events in Sydney, Berlin, London, Jeddah, Cape Town, Mumbai, Lausanne, and Hong Kong,” he said.

In November 2017, Dr. Quraishi received the title of “Officer of the British Empire” (OBE) by Her Majesty Queen Elizabeth II at Buckingham Palace in recognition of her services to the NHS. The NHS also awarded the National Award for Clinical Excellence in 2015.

“My OBE nomination to Buckingham Palace was made by my hospital, Doncaster Royal Infirmary and a group of ENT surgeons.” The queen asked me about my work and asked me about the contamination in London and asked me what could be done to reduce emissions.

READ  Kid Losses His Finger and Eye After His Phone Explodes While Charging

“I gave her my suggestions, I was very well informed and having an audience with her was a great privilege,” said Dr. Quraishi, adding that in the ENT area, no other surgeon has received the OBE title in the past 40 years. years…

Dr. Quraishi’s wife, Humaira, with whom she has two daughters, is a general practitioner (doctor) in Nottingham.

“My eldest daughter, Natasha, graduated from Cambridge and is a doctor in London, while the youngest daughter, Sarah, is a medical student in Nottingham.

“We have dedicated ourselves to the education of our girls and have helped them make their own decisions in life.”

Dr. Quraishi is also known for having an extensive collection of coins, including some from the time of the Holy Prophet (peace be upon him), and the Caliphates of the Umayyads, Abbasids, Ottomans, Al-Andalus and the Mughal Empire.

Chinese Muslims Are Wondering Why They Are Forbidden to Buy Sugar
https://theislamicinformation.com/chinese-muslims-buy-sugar/

Chinese Muslims Are Wondering Why They Are Forbidden to Buy Sugar  BY   

The authorities of the Xinjiang Uyghurs Autonomous Region of China further complicated the life of the Uyghurs muslim population – now the Uyghurs muslims cannot buy sugar without the permission of the police.

The immigrant who left China because of the impossibility to continue to live and work in Xinjiang told about this innovation in a conversation with RFA, reports IslamNews. The woman kept her own bakery but was forced to close it because of the inability to buy sugar in the right amount.

According to the source, for the purchase of sugar, each buyer must show a passport and a police stamp. At the same time, far from every Uyghurs muslim is issued such a certificate – in particular, sugar cannot be seen by all those whose relatives are in “re-education camps” or who are on the “black” list of security officials. But those who have such a certificate will sell only a few hundred grams of refined sugar.

READ  This 29 Years Old Muslim Girl Won Masterchef - 2017

Uyghur residents are wondering why the Chinese authorities want to limit their sugar consumption. Separate speculations appear in social networks that sugar can be used in the manufacture of explosives, and the Chinese government directly associates Uyghurs muslim with terrorism and, for this reason, bans them from buying this food.

Komedian Muslim Amerika dan Usahanya Meredam Islamofobia | KASKUS
https://www.kaskus.co.id/thread/5bce23ab32e2e6cb308b4571/komedian-muslim-amerika-dan-usahanya-meredam-islamofobia
Komedian [pelawak] Muslim Amerika dan Usahanya Meredam [meredakan] Islamofobia
Komedian Muslim Amerika dan Usahanya Meredam Islamofobia
Assalamualaikum para pengunjung sekalian, bagi kalian yang tidak mengerti arti kata Assalamualaikum sebenarnya bermakna, 'aku akan membunuhmu',” kata Azhar membuka bit komedi tentang Islam

Setelah saya mendengar materi joke yang dikeluarkan komedian tersebut, seketika saya tersentak dan terkejut sambil sedikit membayangkan apa yang akan terjadi jika joke seperti tadi digunakan di negari kita yang tercinta ini, barangkali komedian tersebut sudah dilaporkan ke polisi dengan pasal penghinaan ataupun penistaan. Tidak mau berspekulasi lebih jauh saya niatkan utnuk menontonya sampai habis, setalah joke tersebut dilontarkan sang komedian buru buru untuk menjelaskan makna seutuhnya yaitu sebuah salam damai kepada manusia yang diiringi anggukan paham oleh penonton. Dari situ lah komunikasi dibangun dan mereka yang selama ini membenci Muslim dapat teredukasi, karena setiap lelucon yang dibuat sang komedian tentang ajaran Islam, ia langsung menjelaskan makna sebenarnya.
Komedian Muslim Amerika dan Usahanya Meredam Islamofobia
Yang Melontarkan joke tersebut adalah Azhar Muhammad Usman warga negara Amerika muslim lahir di Chicago, Illinois. Usman adalah komedian Amerika keturunan India yang menjadi inisiator tur komedi bertajuk Allah Made Me Funny. Jika kita lihat perawakan dan tampang Usman sekilas adalah tipikal streotip muslim yang memiliki Image negatif di Amerika, berjanggut tebal, berwajah dengan tipikal timur tengah yang kental namun dengan materi komedi yang dibawakan oleh Usman streotip tersebut seakan menghilang, dan menepis kebencian kepada umat Muslim yang selama ini melekat. Menurut Usman ini dapat menjadi sarana dakwah dan pendidikan kepada umat non Muslim di Amerika. Selepas terpilihnnya Trump menjadi presiden Amerika, kebencian terhadap golongan minoritas semakin meningkat, tidak terkecuali umat muslim Amerika. Bersadasarkan data dari Southern Poverty Law Center jumlah grup anti muslim naik tiga kali dari 34 kelompok menjadi 101 kelompok pada 216. Alasan kenaikan ini menurut Southern Poverty Law adalah retorika kebencian yang dibawakan oleh Trump terhadap golongan minoritas yaitu, para imigran, kulit hitam, kelompok LGBT dan masyarakat muslim.

Didorong oleh rasa penasaran, saya mencari tahu apakah ada show dengan tema serupa di internet dan menemukan sebuah show komedi di Netflix dengan judul Hasan Minhaj The Homecoming King, sebuah standup show tunggal yang dibawakan Hasan Minhaj yang berdurasi hampir satu jam, tidak perlu menunggu lama saya langsung menontonnya sampai habis. Dan menurut saya ada dua materi yang sangat membekas bagi saya dari standup tersebut.
Komedian Muslim Amerika dan Usahanya Meredam Islamofobia
Saat hasan menceritakan bahwa setelah tragedi 9-11 yang mengguncang Amerika keluarganya mendapat teror dan ancaman, dan yang paling mengerikan saat rumah mereka dilempar batu dan dijarah. Hasan yang tak terima dengan perlakuan tersebut menanyakan pada ayahnya kenapa tidak membalas, ayah Hasan kemudian berkata diikuti kalimat yang penuh dengan kesedihan  these thing happen and these thing will continue to happen, thats the price we pay for being here”  tapi Hasan menolak gagasan terebut karna menurutnya dia orang Amerika sejati yang punya hak dan kedudukan yang sama dan tidak berhak mendapatkan perlakuan ini.

Kedua saat Hasan menceritakan kisah percintaanya saat malam prom dengan seorang gadis kulit putih bernama Bethany Reed. Sayangnya, kebahagiaan Hasan sirna saat ia baru berdiri di depan pintu rumah Bethany. Ibu Bethany melarang anaknya pergi ke pesta dansa bareng Hasan. Hasan kaget dan tak pernah menyangka bahwa Ibu Bethany mempunyai alasan yang sangat kejam: Hasan berkulit coklat, warga Amerika berdarah India. Sementara Bethany adalah orang Amerika tulen berkulit putih. Apa kata orang nanti jika mereka berpasangan dipesta dansa? Lantas, gelap malam mengiringi kesedihan Hasan. Ia kemudian pulang dan bermain Mario Kart semalaman. Katanya, "Baju yang aku kenakan malam itu adalah baju terbagus yang pernah aku pakai saat bermain Mario Kart.

Selain Hasan Minhaj ada lagi seorang komedian terknenal Amerika bernama Azis Ansari yang berjuang untuk melawan Islamofobia  dan menegakan toleransi. Salah satunya dengan cara mengisi monolognya di acara terkenal SNL dengan materi yang menyidir tingkah intoleransi Trump  dan kebijakan kebijakannya yang pro rasisme. Minhaj, Azis Ansari, dan Azhar Usman adalah generasi baru kulit coklat yang muncul di industri Amerika. Mereka seakan mewakili wajah kaum Muslim yang tidak hanya modern, tapi juga terdidik, dan mapan. Mereka juga menghancurkan stereotip Muslim sebagai sosok yang selalu kaku, anti perubahan, dan marah.

SUMUR
SUMUR

Riyadh janji tak guna senjata minyak jika dikenakan sekatan - Portal Islam dan Melayu | ISMAWeb
https://www.ismaweb.net/2018/10/23/riyadh-janji-tak-guna-senjata-minyak-jika-dikenakan-sekatan/
Riyadh janji tak guna senjata minyak jika dikenakan sekatan RZ  23/10/2018

BANGI, 14 Safar 1440H, Selasa – Riyadh tidak berhasrat menjadikan minyak sebagai senjata bagi membalas langkah yang akan diambil mana-mana negara Barat untuk mengenakan sekatan ke atas Arab Saudi, berikutan kes penulis, Jamal Khashoggi.

Memetik laporan beberapa agensi berita global, Menteri Tenaga, Industri dan Sumber Asli Arab Saudi, Khalid al-Falih berkata, negara itu tidak akan berbuat sebagaimana yang dilakukan pada 1973 lalu ke atas pelanggan dari Barat, dan akan mengetepikan minyak daripada politik.

Pada Oktober 1973 lalu, krisis minyak tercetus selepas Pertubuhan Negara Pengeksport Petrolium (OPEC) mengenakan sekatan ke atas negara yang menyokong rejim pengganas Israel ketika Perang Yom Kippur. Negara yang disasarkan ialah Kanada, Jepun, Netherlands, Britain, Amerika Syarikat (AS) dan diperluaskan ke Portugal, Rhodensia serta Afrika Selatan.
Penghujung berakhir krisis minyak dunia pertama itu pada Mac 1974 harga minyak melambung AS$3 satu tong kepada AS$12 setong di seluruh dunia, namun pada 1979 ketika krisis minyak kedua berikutan revolusi Iran, harganya meningkat kepada AS$39.50 setong.

“Kami tidak akan berbuat demikian,” kata al-Falih kepada agensi berita Russia, TASS, apabila ditanya sama ada Riyadh akan mengulangi tindakan seperti dilakukan pada 1973, jika negara Barat mengenakan sekatan ke atas Arab Saudi, berikutan kes pembunuhan Khashoggi.

Pemimpin politik AS melepaskan kemarahan kepada Putera Mahkota Arab Saudi, Putera Mohammed bin Salman semalam, sambil berkata, mereka percaya beliau mengarahkan pembunuhan Khashoggi, walaupun pentadbiran Donald Trump yang sebelum ini ‘mesra’ Riyadh mengekalkan pendirian berwaspada.

Sesetengah daripada pemimpin AS mendesak Arab Saudi dikenakan sekatan, sementara Riyadh pula berjanji mengambil tindak balas terhadap apa-apa sekatan dengan ‘tindakan yang lebih besar’. Arab Saudi, dikatakan menyusun sekurang-kurangnya 30 strategi, termasuk menggunakan minyak, untuk bertindak balas jika sekatan dikenakan.

Sehingga kini, Jerman dan Kanada telah membatalkan penjualan sistem pertahanan bernilai berbilion dolar AS kepada Arab Saudi.

“Kejadian ini (kes Khashoggi) telah berakhir, tetapi Arab Saudi sebagai negara yang bertanggungjawab, sejak berdekad menjadikan minyak sebagai tanggungjawab ekonomi dan memisahkannya daripada politik.
“Tugas saya sebagai menteri tenaga adalah melaksanakan tanggungjawab konstruktif kerajaan Arab Saudi dan menstabilkan pasaran tenaga, serta menyumbang kepada pembangunan ekonomi dunia,” katanya.

Menyatakan bahawa jika harga minyak meningkat, ia akan memperlahankan ekonomi dunia dan akan mencetuskan kemelesetan ekonomi, al-Falih bagaimanapun berkata, dengan sekatan penuh ke atas Iran yang akan bermula bulan depan, tiada jaminan harga minyak tidak melambung tinggi.
“Saya tidak boleh memberi jaminan, kerana saya tidak dapat menjangkakan apa yang akan berlaku terhadap pembekal. Kami akan mengenakan sekatan ke atas Iran dan tidak ada sesiapa yang mempunyai pentunjuk apa yang akan Tehran lakukan terhadap eksportnya.

“Jika tiga juta tong minyak hilang sehari, kita tidak dapat menampung keperluan ini. Jadi kita terpaksa menggunakan simpanan,” katanya apabila ditanya sama ada dunia boleh mengelak daripada menyebabkan harga minyak mencecah AS$100 setong. Sekarang ini, harga setong minyak adalah sekitar AS$80.

Falih berkata, Arab Saudi akan secepat mungkin menambah pengeluaran kepada 11 juta tong minyak sehari, berbanding sekarang 10.7 juta tong.

“Arab Saudi mampu menaikkan pengeluaran kepada 12 juta tong sehari dan rakan OPEC iaitu Emiriah Arab Bersatu boleh menambah 0.2 juta tong sehari.
“Kami mempunyai keupayaan simpanan yang agak terhad, dan kami menggunakan sebahagian besar daripadanya. Bekalan minyak global tahun depan boleh dibantu oleh Brazil, Kazakhstan dan AS.

“Tetapi jika ada negara lain yang menolak sekatan ke atas Iran, maka kami akan menarik semua keperluan simpanan itu,” katanya.

Sebelum ini, konglomerat media, ahli politik dan individu terkenal menarik diri daripada menyertai persidangan pelaburan Arab Saudi di Riyadh bermula hari ini, berikutan pembunuhan kolumnis The Washington Post di dalam konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Setiausaha Perbendaharaan AS, Steven Mnuchin menarik diri daripada persidangan penting untuk menarik pelabur ke Arab Saudi. 

Tindakan sama diambil Menteri Kewangan Perancis, Bruni Le Maire; Menteri Perdagangan Britain, Liam Fox dan Menteri Kewangan Belanda, Wopke Hoekstra, sambil Menteri Perdagangan Belanda, Stef Blok memberitahu misi dagangan ke Riyadh pada Disember ini bakal ditangguh.

Kumpulan konglomerat media, Fox Business Network menyertai CNN, New York Times, CNBC, Bloomberg, Financial Times serta beberapa kumpulan media lain, turut memboikot persidangan itu. – Agensi

Tiada ulasan: