Google+ Badge

Jumaat, 26 Jun 2015

5445. Bila kita membajai fikiran positif kita.

.

Bismillahirrohmanirrohim
.
اللهُــــــم ۩★۩ صَـلٌ ۩★۩ علَى سَــيدنـا مُحـمَّـدْ ۩★۩ وعلَى آل ســيدنا مُحـمَّـدْ ۩★۩ كما صلٌيت علَى ســيدنـا إِبْرَاهِيـمَ ۩★۩ وعلَى آل سًــيدنــُا إِبْرَاهِيـمَ ۩★۩ وبارك علَى ُسَــيدنـُا مُحــمَّـدْ ۩★۩ وعلَى آل سَـيدنا مُحـمَّــدْ ۩★۩ كما باركت علَى سًـيدنا إِبْرَاهِيمَ ۩★۩ وعلَى آل ًسيدنا إِبْرَاهِيمَ ً۩★۩ فى الْعَالَمِينَ ۩★۩ إن ك حَمِيدٌ مَجِيدْ


AKU INGIN MEMBACA QUR’AN UNTUK IBUKU

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Sebuah kisah yang menyentuh hati tentang harapan indah seorang ibu kepada anaknya dan bakti sang anak kepadanya.

Ahmad berumur sebelas tahun ketika ibunya (orang tua tunggal) mengantarnya untuk kelas Qira’ati (mengaji/membaca Al Qur’an). Saya suka anak-anak itu memulai belajar membaca Qur’an di awal usia, terutama anak laki-laki.

Aku sampaikan hal itu pada Ahmad. Namun ia menyampaikan alasannya, bahawa ibunya selalu berharap dapat mendengar bacaan Al Qur’an darinya.
Ahmad memulai pelajaran Qira’ati nya dan sejak itu aku berfikir ini merupakan pekerjaan yang sia-sia. Meskipun aku sudah berusaha keras mengajarinya, ia tampaknya belum bisa mengenal huruf-huruf hijaiyah dan tidak bisa menalar bagaimana membacanya.

Namun ia patuh untuk terus membaca Al Qur’an seperti yang ku wajibkan untuk semua murid-muridku.

Dalam beberapa bulan ia terus berusaha sementara aku menyimak bacaannya dan terus menyemangatinya. Di setiap akhir pekan ia selalu berkata: “Ibuku akan mendengarku membaca Al Qur’an suatu hari.” Di balik itu aku melihatnya tak bisa diharapkan.

Ia tidak berbakat!

Aku tak mengenal ibunya dengan baik. Aku hanya sempat melihatnya dari kejauhan ketika ia mengantar atau menjemput Ahmad dengan mobil tuanya. Ia selalu melambaikan tangan kepadaku tapi tak pernah berhenti untuk masuk ke kelas.

Suatu hari, Ahmad berhenti dari mendatangi kelas kami. Aku pernah berniat akan menelponnya tetapi kemudian berfikir mungkin ia memutuskan untuk melakukan hal lain.
Mungkin ia akhirnya menyadari akan ketiadaan bakatnya dalam Qira’ati. Aku juga merasa lega dengan ketidakhadirannya. Ia bisa menjadi iklan yang buruk bagi kelas Qira’atiku!

Beberapa minggu kemudian, aku mengirimkan selebaran kepada murid-muridku di rumah akan adanya acara pembacaan qira’ah Al Qur’an. Tak disangka, Ahmad (yang juga menerima pengumuman itu) menanyakan apakah ia diperkenankan untuk tampil membaca qira’ah Al Qur’an.

Aku menyatakan bahawa sebenarnya acara ini untuk murid yang masih aktif saja dan karena ia sudah tidak pernah hadir lagi, maka ia tidak berhak tampil.

Ia menyatakan bahwa ibunya akhir-akhir ini sakit dan tak bisa mengantarnya ke kelas. Ia juga menyatakan bahwa dirinya masih terus berlatih Qira’ati di rumah meskipun tidak masuk kelas.

“Ustadzah, … Aku harus ikut membaca qira’ah!,” paksanya kepadaku.

Aku tak tahu apa yang menyebabkanku akhirnya memperbolehkannya ikut tampil. Mungkin karena tekad Ahmad yang kuat atau ada bisikan hatiku yang menyatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Malam acara pembacaan qira’ah itu telah tiba. Gedung olahraga sekolah telah dipenuhi para orang tua murid, teman-teman dan sanak saudara. Aku tempatkan Ahmad pada giliran terakhir sebelum aku sendiri yang akan menutup acara dengan ucapan terima kasih dan pembacaan qira’ah penutup.

Aku berfikir bahawa jika penampilan Ahmad merusak acara ini, maka itu terjadi di akhir acara dan aku bisa “menyelamatkan” penampilan buruknya dengan penampilanku sendiri.

Pembacaan qira’ah dari murid ke murid berlangsung lancar.
Mereka telah berlatih dan itu terlihat dalam penampilan mereka.
Kini giliran Ahmad naik ke panggung.

Bajunya lusuh tak terseterika dan rambutnya pun acak-acakan tak tersisir rapi. “Mengapa ia tidak berpenampilan rapi seperti murid-murid yang lain?” lintasan pertanyaan buruk sangka, langsung bergolak di kepalaku.

“Mengapa ibunya tidak mempersiapkan penampilannya? Paling tidak, sekedar menyisir rambutnya untuk acara istimewa malam ini?”

Ia mulai membaca.

Aku sungguh terkejut ketika ia mengumumkan bahwa surat Al Kahfi akan ia bacakan.

Aku tak menyangka dan tak siap dengan apa yang ku dengar selanjutnya. Suaranya begitu ringan dan lembut. Qira’ah nya sangat sempurna! Belum pernah ku dengar bacaan Al Qur’an seindah itu dari anak-anak seumurnya.

Setelah enam setengah menit ia berhenti …
Penuh haru dan berlinang air mata, aku bergegas ke atas panggung dan memeluk Ahmad dengan gembira. “Aku belum pernah mendengar yang seindah itu Ahmad!

—Sumber:
(facebook)












Tiada ulasan: