Rabu, 24 April 2019

Sesungguhnya kita bertiga. 9358.

²
Kadang² Aku sedih, kadangi² Aku penat, kadang² Aku kecewa, kadang² Aku terasa, kadang² Aku sakit, kadang² Aku hampir putus asa, kadang² Aku rasa Aku tak kuat😔..
Apa pun ianya hanya kadang
².Yang penting Aku happy🌹


Laa Tahzan
by Rifki M Firdaus
Jika Istrimu…
Oleh: Erna Ummu Azizah 
Komunitas Peduli Generasi dan Umat

TERKADANG, ada satu kondisi tertentu yang rasanya bosan, karena terulang dan terulang lagi.

Bahkan nafsu kadang ingin teriak “Kenapa sih begini terus?..” 

Tapi, iman selalu berbisik lembut: “Tak apa, mungkin ada hikmah di balik semuanya, yang penting kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik. Selebihnya pasrahkan kepada Allah. Dia yang Maha Tahu segalanya. Meski mungkin ada lisan-lisan yang tak henti mencibir, bahkan menghujat. Bersabarlah, jalani dengan ikhlas..”


Bukankah Nabi Ayyub pun pernah diuji sekian lamanya dengan penyakit? Atau Nabi Nuh yang diuji dengan durhakanya sang anak? Atau Nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih putranya? Dan Nabi Ismail disembelih ayahnya? 

Atau bahkan Aisyah yang tak bisa mengandung, dan Maryam yang melahirkan anak tanpa seorang suami? Andaikan mengikuti nafsu, siapa yang mau dengan kondisi seperti itu? Sampai-sampai Maryam pernah mencurahkan isi hatinya, dan Allah abadikan dalam Al-Qur’an:

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS. Maryam: 23)

Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Jangan engkau bersedih hati. Sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu. Niscaya ia akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 24-25) 

Ingatlah, mereka itu adalah insan-insan hebat pilihan Allah. Mereka diuji seperti itu karena Allah Maha Tahu mereka mampu. Dan yang utama adalah karena Allah begitu mencintai mereka. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.

Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji.” (HR. Ath-Thabrani)

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi dan Ahmad)

BACA JUGA: Ini Doa Ketika Hadapi Kesedihan

Karena itu disaat kita menghadapi ujian, selama kita berada di jalan Allah, jangan pernah putus asa. Lelah? Wajar. Menangis? Manusiawi. Tapi yakinlah di setiap ujian yang Allah beri, pasti ada kekuatan dan kebahagiaan yang menanti. Karena semakin pekat malam, semakin dekat fajar tiba. Insya Allah.


وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُون

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita“. (QS. At-Taubah: 40). Wallahu a’lam. []

Kirim RENUNGAN Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi dari RENUNGAN di luar tanggung jawab redaksi Islampos. 

https://www.islampos.com/laa-tahzan-145206/?

Berbisik berkatalah Abu Bakar Shiddiq r.a: “Wahai Rasulullah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”. Rasulullah memandang Abu Bakar r.a penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan Maha Allah Subhanahu Wa Ta'alla” Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar r.a di dalam gua Tsur. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat disampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya.


Yaa Fattaah, Yaa Rozzaaq. Yaa Muhawwilal ahwaal, hawwil ahwaalanaa ilaa ahsanil haal.

Hasbunawllooh wani’mal wakiil. Ni’mal maulaa wani’mannashiir. Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adzhiim.

Yaa Allah, Yang Maha Membuka, Yang Maha Memberi Rizki. Ubahlah keadaan kami menuju keadaan yg lebih baik lagi.
Cukuplah Engkau sebagai Pelindung dan Penolong kami.
Tidak ada daya kecuali Engkau ya Allah Yang Maha Agung.


Tiada ulasan: