Peranan Harem dan Valide Sultan dalam Sejarah Politik Ottoman
Saad Saefullah
Kontroversi Institusi Harem
Perdebatan mengenai institusi harem dalam ruang publik Turki kembali mengemuka ketika Ibu Negara Turki, Emine Erdogan, menyebutkan bahwa harem adalah sekolah untuk anggota keluarga dinasti Ottoman dan pusat pendidikan di mana wanita mempersiapkan diri untuk masa depan kehidupan dan mengatur kegiatan sosialnya.
Pernyataan ini disampaikan dalam perayaan Ottoman “Tarihimize Iz Birakan Valide Sultanlar” pada (9/03/2016) di Ankara. Emine Erdogan juga mengatakan bahwa para Valide Sultan (Ibu Suri) juga berasal dari institusi harem dan mereka telah banyak meninggalkan warisan seni, budaya dan arsitektur yang menghiasi peradaban Ottoman (Milliyet, 2016).
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan “harem” dalam sejarah Ottoman? Apakah institusi ini memang memiliki makna yang negatif seperti yang digambarkan oleh para orientalis Barat selama ini?
Sejarahwan Ottoman, Ekrem Buğra Ekinci, menjelaskan bahwa harem dari istana Ottoman adalah kediaman para sultan bersama dengan shahzade (pangeran), ibu, istri dan anak-anak mereka. Harem adalah bagian istana yang diperuntukkan bagi wanita, dan hanya kerabat pria yang diizinkan masuk. Istilah “harem” berasal dari kata Arab “hurmet” dan “haram” (dilarang oleh agama) dan itu berarti “tempat yang dilarang untuk orang luar” (Ekinci, 2016).
Ekinci juga menjelaskan bahwa di wilayah harem kesultanan terdapat jariyah (pelayan wanita) yang melayani anggota keluarga istana. Jariyah yang dibawa ke istana diberi pendidikan tentang tata krama, baca tulis, matematika dasar, seni rajutan dan agama Islam.
Jariyah muda yang telah menyelesaikan pendidikan mereka kemudian bertugas di berbagai tempat di wilayah istana seperti kamar keluarga istana, perbendaharaan, perpustakaan, dapur, ruang binatu, kamar mandi, kedai kopi dan rumah sakit (Ekinci, 2016).
Sementara itu peneliti sejarah Ottoman lainnya Nermin Taylan, menyatakan bahwa Kesultanan Ottoman juga memiliki sistem pendidikan khusus untuk para perempuan istana di kompleks harem yang dinamakan Duhteran Hümayun.
Disebutkan bahwa gadis-gadis istana yang berpendidikan baik dan lulus dari lembaga tersebut akan menikahi para sultan, pangeran, pasha atau pejabat negara Ottoman. Taylan kemudian menjelaskan bahwa Duhteran Hümayun juga memberikan berbagai ilmu pendidikan, agama dan kesenian yang dibutuhkan oleh para perempuan istana.
Di antaranya adalah Ilmu Al Qur’an, Sejarah Islam dan Ottoman, Ilmu Sastra, Ilmu Hukum, Ilmu Geografi, Ilmu Pidato, Ilmu Politik, Bahasa Arab dan Persia. Selain itu mereka juga mempelajari berbagai kesenian seperti Seni Kaligrafi, Seni Jahit, Seni Masak, dan Seni Musik (Haberler, 2016).
Genealogi Maternal Sultan Ottoman
Seperti yang telah disebutkan oleh Emine Erdogan, sebagian besar ibu para sultan adalah para selir yang berasal dari harem istana. Umumnya mereka beretnis non-Turki dan berasal dari wilayah non-Muslim yang ditaklukkan. Peneliti sejarah Boston University, Kallie Szczepanski, menyatakan bahwa sebagian besar selir di Kesultanan Ottoman pada awalnya merupakan budak atau tawanan perang.
Hal ini disebabkan hukum Islam yang diikuti Ottoman melarang perbudakan sesama Muslim, sehingga para selir biasanya diambil dari keluarga Kristen atau Yahudi di Yunani atau Kaukasus atau tahanan perang dari wilayah lainnya.
Beberapa perempuan harem juga merupakan istri resmi yang mungkin adalah wanita bangsawan dari negara-negara Kristen. Mereka menikah dengan sultan sebagai bagian dari negosiasi diplomatik. Selain itu mengangkat selir atau menikahi wanita asing juga merupakan cara dinasti Ottoman untuk meningkatkan loyalitas penduduk non-Muslim kepada negara.
Meskipun banyak ibu sultan dahulunya adalah budak, mereka dapat mengumpulkan kekuatan politik yang luar biasa jika salah satu putra mereka menjadi sultan. Sebagai valide sultan, seorang selir sering bertindak sebagai penguasa de facto atas nama putranya yang masih muda atau belum kompeten memerintah (Szczepanski, 2019).
Sumber:

Peranan Harem dan Valide Sultan dalam Sejarah Politik Ottoman - Islampos
Executive Editor, Minda Rakyat - 8 minutes ago
PH semasa jadi pemerintah, siang malam pagi petang teriak kerajaan takde duit sebab kena samun dengan Najib dan 1MDB. Pelbagai bantuan yang rakyat dapat semasa era Najib/BN sama ada dmansuhkan atau dipotong. Masa tu mulalah ungkapan jangan jadi pemalas dan mengharapkan bantuan dari kerajaan sahaja. Bantulah kerajaan untuk mengurangkan bebanan hutang kononnya. Peliknya, tak sampai sebulan jadi pembangkang, tetiba cergas pula desak kerajaan PN berikan pelbagai bentuk bantuan sampai syorkan agar kerajaan gunakan wang rizab negara. Jangan kedekut kata PH. Ini betul-betul mangkuk a...
Minda Rakyat - 18 minutes ago
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 23 minutes ago
By Aqira Azemi - 26 March 2020 Ketua Pengarah Kesihatan, Datuk Dr Noor Hisham berkata cadangan beberapa pihak agar Kementerian Kesihatan Malaysia (KKM) menggunakan ubat anti-viral adalah tidak berasas. Jelasnya, cadangan supaya KKM menggunakan ubat anti-viral, Favipiravir bagi merawat pesakit Covid-19, tidak dapat dilaksanakan kerana ubat berkenaan tidak didaftarkan dengan KKM. “Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan kelulusan Ketua Pengarah Kesihatan namun kita perlu mengkajinya terlebih dahulu kerana ia mempunyai kesan sampingan,” katanya, hari ini.
Ibnu Hasyim - 24 minutes ago
WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 29 minutes ago
Minda Rakyat - 47 minutes ago
WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 1 hour ago
Islampos - 1 hour ago
Serambi Indonesia - 5 hours agoMereka juga meminta semua orang yang berbeda budaya, kepercayaan untuk bersatu melawan covid-19 yang semakin mewabah.
Merdeka.com - 5 hours agoBekerja dari rumah bukan berarti bahwa kamu bisa bebas berleha-leha dengan santai. Kamu masih harus melakukan pekerjaanmu dengan tepat ketika di rumah. Hal ini ditambah lagi dengan urusan rumah tangga yang bakal harus kamu urusi.
Aku tengok semua idea DS Najib Razak....
Aku tengok semua idea DS Najib Razak, kerajaan Malaysia tengah pakai untuk lawan Covid-19. DS Najib suruh kita buat kuarantin, hadkan pengerakan rakyat, terus ada PKP dilancarkan dan impaknya, trajektori awal kita nak jadi macam Italy terus menurun dan kita buat masa ini berjaya elak malapetaka yang sama.
Bila DS Najib cadangkan stimulus ekonomi harus disegerakan, siap dengan cadangan membenarkan rakyat ambil duit dari tabung KWSP mereka, terus kerajaan sediakan pelan jangka pendek dengan cadangan KWSP diterima sebahagian daripada rancangan jangka pendek.
Dan Najib nampak ni seminggu-dua minggu lebih awal sebelum seluruh dunia terhumban dalam krisis ekonomi dek Covid-19. Semoga cadangan lain macam BSH dibuka untuk semua lapisan, dinaikkan dan disegerakan akan diikuti juga awal bulan April nanti bila pelan sebenar diumumkan. Lepas tu DS Najib cadangkan kita jadi macam Korea Selatan. Kita buat saringan percuma, kita kejar setiap rakyat kita supaya buat saringan. Ini bukan masa tunggu dan lihat.
Mana-mana yang dijangkiti terus kuarantin sebelum deme jangkitkan kat orang. Hari ini, Director General of Health, Dr Noor Hisham Abdullah baru jer umumkan kita akan ikuti langkah Korea Selatan.
Sebab KS berjaya buru setiap yang terjangkiti inilah yang membawa kepada kejayaan mereka kawal Covid-19 meski suatu masa, mereka berada di tangga kedua paling teruk di dunia.
Kalau Najib jadi PM lagi hari ni, percayalah lagi cepat kita keluar dari krisis. Ini PM yang korang jatuhkan dulu atas fitnah-fitnah daripada PH. Tapi ternyata buah akalnya sentiasa boleh dipakai.
Patutlah zaman dia dulu, pasaran saham kita dikenali sebagai the world’s longest bull run. Patutlah dia bawak kita keluar dari krisis ekonomi 2008 dengan cara kita tak terasa apa-apa pun padahal itu krisis ekonomi paling teruk dalam sejarah, jauh lebih teruk daripada krisis kewangan 1997-1998 zaman Mahathir dulu.
Dia ialah PM yang Malaysian dont deserve, tapi kita sangat perlukan pada saat seperti ini...
Kalau nak harap kerajaan sebelum ni, aku jamin mgkn malaysia jadi macam italy.
Facebook : Helmi Effendy
MR : Setuju..
Sumber:

Aku tengok semua idea DS Najib Razak.... - Minda Rakyat
Unknown, Ahmad Sanusi Husain.Com - 7 hours ago
Raggie Jessy, The Third Force - 10 hours ago
#تتفچوۏيد19: هوسڤيتل تلوق اينتن دتوتوڤ سمنتارا باڬي ڤمبرسيهن سلڤس 37 كاكيتاڠن ڤوسيتيف چوۏيد-19 #TTFCovid19: The health director-general (DG) Datuk Dr [...]
#تتفچوۏيد19: هوسڤيتل تلوق اينتن دتوتوڤ سمنتارا باڬي ڤمبرسيهن سلڤس 37 كاكيتاڠن ڤوسيتيف چوۏيد-19 #TTFCovid19: The health director-general (DG) Datuk Dr [...]
editor@merdeka.com (Editor), Merdeka.com - 10 hours ago
Raggie Jessy, The Third Force - 11 hours ago
THE THIRD FORCE #TTFCovid19: As of 5.30 pm today, the global breakdown of confirmed, suspected, fatal and cured Covid-19 cases [...]
THE THIRD FORCE #TTFCovid19: As of 5.30 pm today, the global breakdown of confirmed, suspected, fatal and cured Covid-19 cases [...]
Raggie Jessy, The Third Force - 11 hours ago
#تتفچوۏيد19: ءساي نق سيرم ڤوكوق د ڤجابت’ #TTFCovid19: ‘Siram pokok di pejabat’, ‘nak hantar kek’, ‘pergi beli surat khabar’ dan [...]
#تتفچوۏيد19: ءساي نق سيرم ڤوكوق د ڤجابت’ #TTFCovid19: ‘Siram pokok di pejabat’, ‘nak hantar kek’, ‘pergi beli surat khabar’ dan [...]
Raggie Jessy, The Third Force - 12 hours ago
#تتفچوۏيد19: اوسها محي الدين هاروس دڤوجي #TTFCovid19: United States based investment bank JP Morgan has given a thumbs up to [...]
#تتفچوۏيد19: اوسها محي الدين هاروس دڤوجي #TTFCovid19: United States based investment bank JP Morgan has given a thumbs up to [...]
Dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Semua pengkhianat akan diberi tanda bendera pengkhianatannya pada hari kiamat sebagai tanda pengenalnya." (HR. Bukhari)
Firman Allah dalam Surah Yusuf Ayat 47-49., yang bermaksud: Yusuf menjawab: Hendaklah kamu bertanam tujuh tahun seperti biasa, kemudian apa yang kamu ketam biarkanlah dia pada tangkai-tangkainya; kecuali sedikit dari bahagian yang kamu jadikan untuk makan. Kemudian akan datang selepas itu, tujuh tahun yang bersangatan kemaraunya, yang akan menghabiskan makanan yang kamu sediakan bagi mereka; kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan untuk dijadikan benih. Kemudian akan datang pula sesudah itu tahun yang padanya orang ramai beroleh rahmat hujan, dan padanya mereka dapat memerah hasil. (QS Yusuf 12: 47 – 49)
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 19 minutes ago
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 25 minutes ago
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 29 minutes ago
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 30 minutes ago
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 33 minutes ago
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 37 minutes ago
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 46 minutes ago
AMIR Wartawan Rasmi LR, WARTAWAN RASMI LAMAN REFORMASI - 47 minutes ago
Yusof ismail Nasihat yang baik sahaja tidak berguna juga perut anak sudah kekurangan zat dan kelaparan. Nasihat yang baik tidak berguna bila ketua kehilangan sumber pekerjaan Solat berjemaah bersama keluarga tidak berguna jika anak-anak kebuluran. Mohon keampunan pada Allah tidak berguna selagi ada sangkut dosa kezaliman sesama manusia akibat dapat kuasa jalan yang batil Tidak lah Saidina Umar R.A hanya pandai menasihat rakyat waktu susah. Ingat lah kisah antara Saidina Umar & pembantunya Aslam waktu meronda dan baginda terjumpa rumah seorang wanita yang memasak batu dalam periuk....
Yusof ismail Nasihat yang baik sahaja tidak berguna juga perut anak sudah kekurangan zat dan kelaparan. Nasihat yang baik tidak berguna bila ketua kehilangan sumber pekerjaan Solat berjemaah bersama keluarga tidak berguna jika anak-anak kebuluran. Mohon keampunan pada Allah tidak berguna selagi ada sangkut dosa kezaliman sesama manusia akibat dapat kuasa jalan yang batil Tidak lah Saidina Umar R.A hanya pandai menasihat rakyat waktu susah. Ingat lah kisah antara Saidina Umar & pembantunya Aslam waktu meronda dan baginda terjumpa rumah seorang wanita yang memasak batu dalam periuk....

Sumber: SINI bukan SITU atau SANA
Miftah H. Yusufpati, SINDOnews | Berita Terkini dan Terpercaya | RSS - 57 minutes ago
sukarja, Check Porsi Haji App. - 3 hours ago
Berlianto, SINDOnews | Berita Terkini dan Terpercaya | RSS - 3 hours ago
Kasus Corona, Antara Memelihara Agama dan Jiwa.
Merebaknya virus corona, mengharuskan penjagaan terhadap agama (hifdz al-din) tidak boleh bertentangan dengan tujuan-tujuan syariat
Oleh: Bahrul Ulum
Hidayatullah.com | MUNCULNYA wabah virus corona (COVID-19) telah menimbulkan kebingungan di kalangan kaum Muslimin. Bukan hanya karena telah merenggut nyawa banyak orang, tetapi juga adanya perbedaan fatwa di kalangan ulama berkaitan hukum yang menyertainya.
Sebagian ulama dengan tegas menfatwakan supaya kaum Muslimin menghindari wabah tersebut dengan membolehkan meninggalkan shalat jamaah dan shalat Jumát. Alasannya, salah satu media yang sangat potensial bagi penularan virus itu adanya kerumunan atau perkumpulan. Dalam shalat berjamaah tentu terjadi pertemuaan banyak orang di satu tempat.
Namun, ada sebagian ulama yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Alasannya, menjalankan hukum-hukum Islam merupakan prinsip agama walaupun harus mengorbankan jiwa, seperti jihad fi sabilillah.
Bukti menjalankan hukum agama di antaranya melaksanakan dzikrullah di masjid-masjid serta memakmurkannya dengan shalat fardhu dan shalat Jumat. Karena itu masjid tidak boleh ditutup. Dasarnya adalah pendapat Ibnu Taimiyah bahwa haram menutup masjid-masjid untuk pelaksanaan amalan-amalan yang untuk itu disyariatkan pembangunan masjid (Majmu’ul Fatawa XXXI/255). Demikian juga pendapat Al-Aini bahwa dimakruhkan mengunci pintu masjid karena seakan-akan itu merupakan larangan shalat (Al-Binayah Syarhul Hidayah lil Marghinani fi Fiqhil Hanafiyah, II/470).
Mengunci pintu masjid mirip dengan tindakan melarang, sehingga dimakruhkan. Ini berdasar firman Allah Ta’ala: “Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang melarang berzikir mengingat Allah di masjid-masjid Allah?” (QS: al-Baqarah:114).
Bahkan ulama yang menfatwakan larangan shalat di masjid karena corona dituduh terpengaruh paradigma Barat yang sekuler dan materialistis. Barat memandang manusia sebagai komoditas yang khawatir musnah atau setidaknya rugi secara materi yang akan menjadi beban negara.
Karena pemikiran tersebut, kehidupan dunia lebih penting daripada kemaslahatan agama, iman, dan akhirat. Cara pandang Barat yang materialistis itu telah mendominasi dalam penyikapan terhadap wabah corona dengan membatasi persoalan ini sebagai wilayah thibb thabi’i semata seperti upaya kehati-hatian, pencegahan, dan pengobatan. Namun di saat yang sama memutus hubungan dengan alam ghaib dan thibb imani yang mengharuskan bertaubat, berinabah, berdoa, dan bertawakal kepada Allah. Juga bersabar terhadap ujian-Nya, ridha kepada takdir-Nya, serta kesadaran akan keagungan-Nya. Padahal, itu semua merupakan hakikat keimanan kepada Allah!
Karenanya, ada pendapat sebuah kebatilan bagi orang yang memahami hakikat Islam, Iman, dan tauhid jika menutup masjid.
Sedang ulama yang menerbitkan fatwa berisi himbauan meniadakan penyelenggaraan shalat Jumat dan berjamaah di masjid di wilayah terpapar wabah corona didasarkan pada Firman Allah Ta’ala:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kalian jatuhkan diri kalian dalam kebinasaan dengan tangan kalian sendiri. Dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al Baqarah 195).
Demikian juga sabda Rasulullaah ﷺ “Tidak boleh ada bahaya dan sesuatu yang menyebabkan bahaya.” (HR. Ibnu Majah, Daruqutni).
Demikian juga larangan Rasulullah ﷺ dalam riwayat Muslim, bagi orang yang memakan bawang mendekati masjid karena baunya dapat mengganggu orang lain. Jika orang seperti ini saja dilarang apalagi bagi orang yang mungkin menjadi sebab sakit dan kematian bagi orang lain.
Apalagi hal yang sama juga pernah dilakukan oleh para ulama salaf. Ketika itu di tahun 448 H terjadi kekeringan parah di Mesir dan Andalusia, dan di Qordoba tidak terjadi kekeringan dan wabah seperti itu, sampai-sampai masjid ditutup dan tidak ada orang shalat. (Siyar A’lam an Nubala, 18/311).
Antara Hifdun Din dan Hifdun Nafs
Islam hadir dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Menurut Imam Ghazali dalam kitabnya al-Mustashfa, kemaslahatan mencakup tiga hal penting, yaitu(primer), Hajjiyah (sekunder) dan Tahsiniyah (tersier). Yang mana dalam setiap tingkatan kemaslahatan tersebut mencakup lima hal penting yaitu hifdzud Din (memelihara agama), hifdzun nafs (memelihara jiwa), hifdzun nasl (memelihara keturunan), hifdzul aql (memelihara akal) dan hifdzul mal (memelihara harta). Kelima hal tersebut kemudian dikenal sebagai tujuan-tujuan utama syariah atau agama hadir adalah untuk menjaga hal-hal tersebut.
Para ulama sepakat bahwa dalam prakteknya, kelima hal tersebut tidak boleh saling bertentangan satu sama lainnya. Misalnya hifdzud din (memelihara agama), bukan hanya sekedar menjaga kesucian agama, namun juga membangun sarana ibadah dan menciptakan pola hubungan yang sehat dalam menjalankan agama, baik antar sesama agama maupun dengan orang beda agama.
Secara tidak langsung, hak ini digunakan untuk menciptakan situasi kondusif dalam mewujudkan keberagamaan seseorang. Dalam konteks sekarang, kebolehan mengganti shalat Jumat dengan shalat Dhuhur karena adanya wabah adalah bentuk memelihara agama sekaligus memelihara jiwa.
Adalah Rasulullah ﷺ sangat tidak suka terhadap fatwa yang mengancam dan mengorbankan nyawa manusia. Abu Dawud meriwayatkan, “Dari ‘Atha` bin Abi Rabah bahwasanya dia mendengar Ibnu Abbas berkata: Ada seseorang terluka pada masa Rasulullah ﷺ, kemudian dia bermimpi basah, lalu dia diperintahkan untuk mandi, maka dia mandi dan meninggal. Kejadian ini kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya semoga Allah membunuh mereka! Bukankah obat dari kebodohan adalah bertanya!” (HR: Abu Dawud).
Dalam hadis di atas, sejumlah Sahabat memberi fatwa untuk mandi kepada seorang Sahabat yang sedang junub, padahal di kepalanya ada luka parah. Akibatnya Sahabat ini wafat. Karena itulah Rasulullah ﷺ sangat marah dan mensifati pemberi fatwa dengan penisbatan pada pembunuhan.
Padahal, para Sahabat yang berfatwa tentu berniat baik dengan menyuruh Sahabat yang terluka tetap dalam ketakwaan. Juga supaya tidak melanggar perintah Allah untuk bersuci dengan air, yang berarti berada dalam jalan kesalihan dalam kondisi apapun. Akan tetapi ternyata kondisi seperti ini tidak menyelamatkan mereka mendapatkan teguran keras dari Rasulullah ﷺ.
Demikian juga ketika ada kasus pandemi, Rasulullah ﷺ juga menegaskan agar tidak mendatangi tempat yang terkena wabah dan yang sudah ada di wilayah tersebut tidak keluar agar tidak menular ke orang lain. Hal ini kemudian juga dipraktekkan ole para Sahabat seperti Umar bin Khatab yang membatalkan ke Damasku karena di wilayah tersebut terkena pendemi thaún.
Banyak kitab para ulama yang mencatat dengan baik bagaimana Nabi Muhammad ﷺ dan para Sahabat menyikapi pandemi. Para Sahabat bukan dengan menantangnya atas nama tauhid, atau atas nama “hanya takut pada Allah.”
Ini berbeda dengan masyarakat Eropa jaman itu yang karena kefanitikannya menyikapi the Black Death. Yang menuduh kaum Yahudi sebagai penyebabnya sehingga Tuhan murka. Akibatnya, , ribuan Yahudi dipersekusi.
Merebaknya virus corona yang sangat mematikan saat ini, mengharuskan penjagaan terhadap agama (hifdz al-din) tidak boleh bertentangan dengan tujuan-tujuan syariat yang lainnya yaitu salah satunya adalah menjaga jiwa (hifdzun nafs).
Kebolehan untuk mengganti shalat Jumat tidak lain adalah bagian dari penjagaan atas hak hidup manusia atau jiwa manusia. Tanpa meninggalkan penjagaan terhadap agama, yaitu tetap beribadah dengan mengganti shalat Jumat dengan shalat Dzuhur. Wallahuálam.*
Dosen Ushul Fiqh, Sekretraris MIUMI Jawa Timur
HIDAYATULLAH
Sumber: Kasus Corona, Antara Memelihara Agama dan Jiwa – Check Porsi Haji App.
Saad Saefullah, Islampos - 7 hours ago
Daftar Isi Al-Quran dan Terjemahan - Silakan Klik untuk membacanya:
- Surat Al Fatihah (Pembukaan)
- Surat Al Baqarah (Sapi Betina)
- Surat Ali 'Imran (Keluarga 'Imran)
- Surat An Nisa' (Wanita)
- Surat Al Ma'idah (Hidangan)
- Surat Al An'am (Binatang Ternak)
- Surat Al A'raf (Tempat Tertinggi)
- Surat Al Anfal (Rampasan Perang)
- Surat At Taubah (Pengampunan)
- Surat Yunus (Nabi Yunus A.S.)
- Surat Hud (Nabi Huud A.S.)
- Surat Yusuf (Nabi Yusuf A.S.)
- Surat Ar Ra'd (Guruh)
- Surat Ibrahim (Nabi Ibrahim A.S.)
- Surat Al Hijr (Daerah Pegunungan)
- Surat An Nahl (Lebah)
- Surat Al Israa' (Memperjalankan Di Malam Hari)
- Surat Al Kahfi (Gua)
- Surat Maryam (Maryam)
- Surat Thaha (Thaahaa)
- Surat Al Anbiya' (Kisah Para Nabi)
- Surat Al Hajj (Ibadah Haji)
- Surat Al Mu'minun (Orang Mukmin)
- Surat An Nur (Cahaya)
- Surat Al Furqaan (Pembeda)
- Surat Asy Syu'ara' (Penyair)
- Surat An Naml (Semut)
- Surat Al Qashash (Cerita)
- Surat Al 'Ankabuut (Laba-Laba)
- Surat Ar Ruum (Bangsa Rumawi)
- Surat Luqman (Luqman)
- Surat As Sajdah ((Sujud)
- Surat Al Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
- Surat Saba' (Kaum Saba')
- Surat Fathir (Pencipta)
- Surat Yaasiin
- Surat Ash Shaffat (Yang Bershaf-Shaf)
- Surat Shaad
- Surat Az Zumar (Rombongan-Rombongan)
- Surat Al Mu'min (Orang Yang Beriman)
- Surat Fushshilat (Yang Dijelaskan)
- Surat Asy Syuura (Musyawarah)
- Surat Az Zukhruf (Perhiasan)
- Surat Ad Dukhaan (Kabut)
- Surat Al Jaatsiyah (Yang Berlutut)
- Surat Al Ahqaaf (Bukit Pasir)
- Surat Muhammad (Nabi Muhammad SAW)
- Surat Al Fath (Kemenangan)
- Surat Al Hujuraat (Kamar-Kamar)
- Surat Qaaf
- Surat Adz Dzaariyaat (Angin Yang Menerbangkan)
- Surat Ath Thuur (Bukit)
- Surat An Najm (Bintang)
- Surat Al Qamar (Bulan)
- Surat Ar Rahmaan (Yang Maha Pemurah)
- Surat Al Waaqi'ah (Hari Kiamat)
- Surat Al Hadid (Besi)
- Surat Al Mujadilah (Wanita Yang Mengajukan Gugatan)
- Surat Al Hasyr (Pengusiran)
- Surat Al Mumtahanah (Wanita Yang Diuji)
- Surat Ash Shaff (Barisan)
- Surat Al Jumu'ah (Hari Jum'at)
- Surat Al-Munafiqun (Orang-Orang Munafik)
- Surat At Taghabun (Hari Ditampakkan Kesalahan-Kesalahan)
- Surat Ath Thalaaq (Talak)
- Surat At Tahrim (Mengharamkan)
- Surat Al Mulk (Kerajaan)
- Surat Al Qalam (Pena)
- Surat Al Haqqah (Kiamat)
- Surat Al Ma'arij (Tempat-Tempat Naik)
- Surat Nuh (Nabi Nuh A.S)
- Surat Al Jin (Jin)
- Surat Al Muzzammil (Orang Yang Berselimut)
- Surat Al Muddatstsir (Orang Yang Berselimut)
- Surat Al Qiyamah (Hari Kiamat)
- Surat Al Insaan (Manusia)
- Surat Al Mursalat (Malaikat-Malaikat Yang Diutus)
- Surat An Naba´ (Berita Besar)
- Surat An Naazi´ (Malaikat-Malaikat Yang Mencabut)
- Surat 'Abasa (Bermuka Masam)
- Surat At Takwir (Menggulung)
- Surat Al Infithar (Terbelah)
- Surat Al Muthaffifiin (Orang-Orang Yang Curang)
- Surat Al Insyiqaaq (Terbelah)
- Surat Al Buruuj (Gugusan Bintang)
- Surat Ath Thaariq (Yang Datang Di Malam Hari)
- Surat Al A´Laa (Yang Paling Tinggi)
- Surat Al Ghaasyiyah (Hari Kiamat)
- Surat Al Fajr (Fajar)
- Surat Al Balad (Negeri)
- Surat Asy Syams (Matahari)
- Surat Al Lail (Malam)
- Surat Adh Dhuhaa (Waktu Dhuha)
- Surat Alam Nasyrah /Al Insyirah (Bukankah Kami Telah Melapangkan)
- Surat At Tiin (Buah Tin)
- Surat Al 'Alaq (Segumpal Darah)
- Surat Al Qadr (Kemuliaan)
- Surat Al Bayyinah (Bukti Yang Nyata)
- Surat Al Zalzalah (Goncangan)
- Surat Al 'Adiyat (Kuda Perang Yang Berlari Kencang)
- Surat Al Qari'ah (Hari Kiamat)
- Surat At Takatsur (Bermegah-Megahan)
- Surat Al 'Ashr (Masa)
- Surat Al Humazah (Pengumpat)
- Surat Al Fiil (Gajah)
- Surat Quraisy (Suku Quraisy)
- Surat Al Ma'un (Barang-Barang Yang Berguna)
- Surat Al Kautsar (Nikmat Yang Banyak)
- Surat Al Kafirun (Orang-Orang Kafir)
- Surat An Nashr (Pertolongan)
- Surat Al Lahab (Gejolak Api)
- Surat Al Ikhlas (Memurnikan Keesaan Allah)
- Surat Al Falaq (Waktu Subuh)
- Surat An Naas (Manusia)













Tiada ulasan:
Catat Ulasan