Google+ Badge

Sabtu, 22 Ogos 2015

5771. Surah Al-Baqarah Ayat 223.

#
♡ ﺑِﺴْــــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْـــﻢ ♡
◆▬▬▬▬▬ஜ  ஜ▬▬▬▬▬◆
☆•*´¨`*•.¸¸.•*´¨`*•.¸¸.•*´¨`*•.¸¸.•*´¨`*•.¸¸.•★´¨`*•.¸¸.•★
♡ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه ♡
◆◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙ஜ۩۩  ۩۩ஜ◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◆


اللهُــــــم ۩★۩ صَـلٌ ۩★۩ علَى سَــيدنـا مُحـمَّـدْ ۩★۩ وعلَى آل ســيدنا مُحـمَّـدْ ۩★۩ كما صلٌيت علَى ســيدنـا إِبْرَاهِيـمَ ۩★۩ وعلَى آل سًــيدنــُا إِبْرَاهِيـمَ ۩★۩ وبارك علَى ُسَــيدنـُا مُحــمَّـدْ ۩★۩ وعلَى آل سَـيدنا مُحـمَّــدْ ۩★۩ كما باركت علَى سًـيدنا إِبْرَاهِيمَ ۩★۩ وعلَى آل ًسيدنا إِبْرَاهِيمَ ً۩★۩ فى الْعَالَمِينَ ۩★۩ إن ك حَمِيدٌ مَجِيدْ


♡ ﷺ ♡ ﷺ ♡ ﷺ ♡ ﷺ ♡ ﷺ ♡


◆◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙ஜ۩۩ ♡ ۩۩ஜ◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◆

♡  الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين
“”
استغفر الله لا إله إلا هو الذي الحي القيوم واتوب إليه
استغفر الله لا إله إلا هو الذي الحي القيوم واتوب إليه
استغفر الله لا إله إلا هو الذي الحي القيوم واتوب إليه
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ , الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ , مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ , إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ , اهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيمَ , صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ , غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين
سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم
آمين...آمين... آمين... ياالله يَآرَبْ آلٌعَآلَمِيِن
ﺑِﺴْــــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْـــﻢ
 •
“”
#

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu). (Surah Al-Hujurat ayat 13)
DIMENSI SEKS SUAMI ISTRI
 (kajian tafsir al-baqarah:223) oleh saifuddin ahmadsyatibi
A.Teks Ayat dan tarjamahnya
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِين
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. Qs.2:223

B. Tinjauan Historis
عن جابر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ الْيَهُودُ تَقُولُ إِذَا جَامَعَهَا مِنْ وَرَائِهَا جَاءَ الْوَلَدُ أَحْوَلَ فَنَزَلَتْ نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ
Dari Jabir diriwayatkan bahwa orang yahudi beranggapan, jika seseorang bergaul dengan isterinya dari arah belakang, maka anaknya akan juling. Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap anggapn tersebut. Hr. Al-Bukhari (194-256H)[1]

Ada seorang shahabat menghadap Rasul SAW, mengatakan bahwa ia tidak menggauli isterinya dan tidak pula nadzar untuk itu. Rasul bersabda:
ائْتِ حَرْثَكَ أَنَّى شِئْتَ وَأَطْعِمْهَا إِذَا طَعِمْتَ وَاكْسُهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلَا تُقَبِّحْ الْوَجْهَ وَلَا تَضْرِبْ
Gaulilah isterimu sesuai keinginanmu, berilah makan sesuai yang kamu makan, beri pakaian seperti kamu berpakaian, jangan mencampakkan wajahnya dan jangan pula memukulnya. Hr. Abu Dawud.[2]

Diriwayatkan dari Ibn Umar r.a, bahwa ketika syari’ah Islam turun, masyarakat terdiri dari penyembah berhala, yahudi dan nashrani. Peristiwa hijrah membawa umat dari Mekah ke Madinah. Di Madinah kaum yahudi dinggap paling berilmu, mereka punya aturan tidak boleh menggauli isteri, kecuali dengan satu cara. Sedangkan kaum Quraisy sudah biasa melakukannya dengan berfariasi. Ada seorang muhajir[3] nikah dengan kaum anshar dan mengajak bergaul suami isteri secara fariasi, sambil duduk, berdiri, dari belakang dan dari depan. Hal ini ditolak isterinya dan dianggap perbuatan munkar. Kemudian perselisihan ini diadukan kepada Rasul SAW, maka turunlah Qs.2:223 ini. Beliau menandaskan:

نِسَاؤكُم حَرْثٌ لَكُم فَأتُوا  حَرْثَكُمْ  أنَّى شِئْتُم أيْ مُقْبِلات وَمُدْبِرَات ومُسْتَلْقِيَات يَعْنِي بِذلِكَ مَوْضِع الوَلد
Silakan apakah dari belakang, berbaring, duduk, atau berdiri asalkan pada tempat lahirnya anak.  Hr. Abu Daud[4]

C. Kaitan dengan ayat sebelumnya

Ayat 222 melarang mengauli isteri yang sedang haidl dan menyuruh agar suami menggauli isteri yang telah suci. Ayat 223 ini memberikan kebebasan kepada suami isteri dalam berjima sesuai apa yang dikehandki kedua belah pihak, asalkan pada tempatnya.

D. Tafsir Kalimat

1. نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ isterimu adalah ladang bagimu. Isteri diumpamakan ladang, karena tempat menanam benih. Dari isterilah akan tumbuh calon generasi penerus. Oleh karena itu seorang suami mesti waspada, jangan sampai menanam benih yang buruk. Kualitas tanaman dipengruhi oleh kualitas benih. Tanaman pun sangat tergantung pada pemeliharaan, apakah akan tumbuh secara baik ataukah tidak.

2. فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ tanamilah ladangmu sesuai kehendakmu. Ibn Hajar al-Asqalani (773-852H) meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Huyay bin Akhtab dan kaum Yahudi mengatakan kepada kaum Muslimin: إنه لا يحل لكم أن تأتوا النساء إلا مستلقيات و إنا نجد في كتاب الله أن جماع المرأة غير مستلقية ذنب (seseungguhnya tidak halal menggauli istri kecuali dengan cara berhadapan. Kami menemukan dalam kitab Allah bahwa menjimai istri tanpa berhadapan adalah dosa). Tidak lama kemudian turunlah ayat ini.[5]

Isteri dilambangkan tempat bercocok tanam, yang hasil panennya dipengaruhi oleh kondisi tanah, kualitas benih, air hujan, dan sinar matahari. Kehidupan berkeluarga bagaikan bertani yang membutuhkan pemeliharaan, penggarapan secara baik. Keturunan yang akan dihasilkan pun sangat terpengaruh oleh kondisi istri, kepemimpinan suami, dan lingkungan sekitar. Hidup di dunia juga bagaikan bertani yang hasilnya dipanen di akhirat.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. Qs.42:20

Boleh saja melakukan hubungan dengan isteri sesuai kehendak kedua belah fihak, sepanjang pada tempatnya. Hukum syari’ah tidak mengharamkan mencari keni’matan dalam bergaul suami istri, yang penting mendatangkan kebaikan dan kemanfaatan. Oleh karena itu mesti menghindari yang menimbulkan mafsadat.[6] Manfaat dan mafsadat pun bakal didapat, sesuai dengan yang diperbuat. Bila ingin hasil yang baik, maka hendaklah bercocok tanam secara baik, benih yang baik, dan di tempat yang baik pula.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasul SAW bersabda:
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
Telah dijadikan kesenangan bagiku dari kehidupan dunia; istri, wewangian, dan dijadikannya penyejuk mata hatiku di dalam shalat. Hr. Ahmad, al-Nasa`iy, al-Thabarani, al-Bayhaqi. [7]

Kata al-Muqadasi, sanadnya shahih.[8] Menurut al-Hakim hadits ini memiliki derajat shahih, para rawinya memenuhi darajat al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkan.[9] Bersenda gurau mesra dan rayuan dalam kehidupan suami istri, merupakan kebiasaan terpuji. Rasul saw. bersabda: وَلَيْسَ مِنَ اللَّهْوِ إِلاَّ ثَلاَثٌ تَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلاَعَبَتُهُ امْرَأَتَهُ وَرَمْيُهُ بِقَوْسِه  Tidak ada senda gurau (yang baik) kecuali seseorang sedang melatih berkuda, bermesraan dengan isterinya dan melatih main panah. Hr. al-Turmudzi (209-279H).[10]

Berdasar hadits ini bersenda gurau, bercengkrama dan bermain antar suami-isteri termasuk perbuatan yang terpuji. Al-Qur’an menggambarkan bahwa suami isteri itu bagaikan pakaian. Firman Allah SWT: هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ“Isterimu adalah  pakaian  bagimu  dan  kamu  adalah  pakaian bagi isterimu” . Qs. 2: 187.

Seorang suami jika beranggapan bahwa dirinya adalah pakaian isteri, maka akan berusaha untuk  memuaskan isterinya. Sang isteri pun demikian, jika beranggapan sebagai pakaian suaminya akan berusaha memberikan kepuasan pada suami. Menggunakan pakaian juga mesti tenang, tertib dan jangan sampai rusak apalagi robek. Dari segi lain, ayat tersebut mengandung makna bahwa jima’ itu milik bersama. Dirinya merupakan bagian dari yang lain. Betapa erat ikatan suami isteri  digambarkan oleh ayat tersebut. Jima’ adalah mengandung makna didikan bahwa dua sama dengan satu, satu sama dengan dua. Adapun teknik melakukan jima’, boleh saja  bervariasi, asalkan pada  farji/vagina.

Jima diusahakan bisa dicapai oleh kedua belah pihak suami isteri. Menurut Imam Al-Ghazali, jima’ yang paling berkualitas adalah jima’ yang klimaksnya bersamaan antara suami isteri.[11]Keberhasilan tersebut sangat tergantung kepada  kerjasama kedua belah pihak. Namun jika sulit dicapai secara bersamaan, usahakanlah sang suami menahan kekuatan, jangan sampai ejakulasi sebelum istrinya mengalami orgasme. Artinya isteri bisa mendahului suaminya. Jika isteri mendahului suami, tidak akan menimbulkan masalah, sebab wanita bisa mengalaminya beberapa kali ejakulasi tiap kali  berjima’

Suami bisa memuaskan isterinya terlebih dahulu, baru meraih kepuasan dirinya. Hal ini sebagai manifestasi dari kedudukan suami yang menjadi pemimpin dan memiliki kewibawaan. Potensi untuk itu, dimiliki seorang laki-laki. Dalam ayat waris ditandaskan: للذكر مثل حظ الأنثيين Satu orang laki-laki sebanding dengan dua orang perempuan. Qs. 4: 11.

Bila dikaji dari sudut pendidikan seks, ayat ini bisa diambil pelajaran bahwa laki-laki dapat membuat isterinya dua kali orgasmus, dalam satu kali jima’. Kaum pria juga memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan biologis dua orang isteri dalam satu kali janabat. Hal ini bisa dilakukan bila suami tidak egois, tidak  mementingkan kepuasan diri.
إذَا جَامعَ اَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلْيُصَدِّقْهُ ثُمَّ إِذَا قَضَى حَاجَتَهُ قَبْلَ أَنْ تَقْضِيَ حَاجَتَهَا فَلاَ يُعَجِّلْهَا حَتَّى تَقْضِيَ حَاجَتَهَا.
“Jika  seorang  suami  berjima’ dengan isterinya, hendaklah melakukan secara benar dan dengan sebaik-baiknya. Jika dia telah terdesak untuk mencapai klimaks, maka hendaklah ia  menahan  diri, jangan melepaskannya sebelum isterinya mencapai klimaks memenuhi kepuasannya”. Hr. Abi  Ya’la, (w.307).[12]

Jika suami istri bersepakat untuk melakukan jima kedua kali, handaklah diselang dengan mencuci kelamin dan berwudlu. Dalam riwayat Abi Sa’id diterangkan bahwa Rasulullah saw. memerintah wudlu bagi yang telah berjima’, jika hendak melakukan lagi jima’ berikutnya.
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا
Jika salah seorang di antaramu menggauli isterinya dan hendak mengulanginya lagi, maka hendaklah berwudlu di antara keduanya. Hr. Muslim.[13] Jika hubungan suami istri telah usai, usahakan jangan langsung tertidur, melainkan bersihkanlah terlebih dahulu farji dan dzakarnya, dan berwudlu.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ
Hadits dari Aisyah menerangkan “Adalah Rasulullah saw. apabila junub  (habis  jima’) kemudian hendak makan atau hendak tidur suka berwudlu terlebih dahulu seperti wudlu akan  shalat”. H.R. Muslim.[14] 

Bila fase terakhir ini sudah selesai, lebih baik  langsung  mandi, walaupun waktu shalat masih lama, bila tidak mandi minimal wudlu. Rasul SAW bersabda:
 إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ
Hadits dari Abi Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jika salah seorang duduk di antara empat cabang anggota tubuh, kemudian menggauli isterinya maka wajiblah mandi. Hr. al-Bukhari dan Muslim.[15]

Menurut Mansur Ali, yang dimaksud empat cabang anggota tubuh ialah dua tangan dan dua kaki. Kalimat tersebut merupakan kinayah dari hubungan seks suami isteri.[16] Dalam Hadits ‘Aisyah diterangkan
إِذَا جَاوَزَ الخِتَانُ الختانَ فَقَدْ وَجَبَ الغُسْلُ فَعَلْتُهُ أنَا وَ رَسُول الله عليه وسلم فَاغْتَسَلْنَا
Jika khitan bersentuhan dengan khitan, maka wajib mandi. Aku pernah mengalaminya bersama Rasulullah saw. dan kami mandi. H.R. Tirmidzi.[17]

Hadits ini menyatakan   bahwa  jika  dua kelamin bersentuhan, maka wajib mandi walau tidak  mengeluarkan  mani. [18]

3. وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ   kerjakanlah amal baik untuk dirimu.
Oleh karena itu hendaklah memenuhi etika yang dianggap baik oleh kedua belah pihak dan tidak bertentangan dengan syari’ah. Berlaku baik akan membawa kebaikan bagi diri. Menurut al-Sudi, ma’na ayat ini adalah قدموا الأجر في تجنب ما نهيتم عنه وامتثال ما أمرتم به (usahakan untuk mendapatkan pahala dengan menjauhi apa yang dilarang, dan memenuhi apa yang diperitahkan).[19]

Jika dilakukan secara benar dan baik, hubungan suami istri pun akan bernilai shadaqah yang mendatangkan pahala.
وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا
Pada kemaluanmu terdapat shadaqah. Shahabat bertanya: Apakah dalam memenuhi kebutuhan seks, kami akan mendapatkan pahala? Rasul SAW bersabda: Bukankah jika kamu penuhi secara tidak halal akan mendatangkan dosa? Jika demikian, maka bila kamu penuhi secara halal, akan mendapat pahala. Hr. Ahmad, Muslim, Abu Dawud.[20]

4. وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ bertakwalah kepada Allah dan ingatlah kamu akan bertemu dengan-Nya.
Kata Wahbah al-Zuhayli, ayat ini merupakan peringatan terhadap hamba-Nya agar waspada dalam bersikap, berucap dan bertindak, sebab akan dimintai tanggung jawab oleh Allah SWT tatka menjumpai-Nya.[21]

Menurut al-Baydlawi ayat ini berma’na  واتقوا الله بالاجتناب عن معاصيه واعلموا أنكم ملاقوه فتزودوا ما لا تفتضحون به (bertaqwalah kepada Allah dengan menjauhi pelanggaran ma’siat. Sesungguhnya kamu akan bertemu dengan-Nya, maka bersiaplah menghadapi-Nya jangan melakukan kesalahan).[22] 

Oleh karena itu hendaklah pandai menjaga diri jangan sampai bersikap dan bertindak yang membahayakan, sebab di akhirat akan bertemu dengan Allah SWT yang bakal meminta tanggung jawab. Jika ingin ringan tanggung jawab di akhirat, maka berlakulah baik dan dapat dipertanggung jawabkan secara syari’ah.

5. وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ beritakanlah berita gembira bagi orang mu`min. Jika segalanya dilakukan atas dasar iman, bakal mendatangkan kebahagiaan paripurna, baik  di dunia maupun di akhirat.

Pengunci ayat ini merupakan jaminan, bahwa orang yang membangun rumah tangga atas dasar iman akan meraih kebahagiaan paripurna.

E. Beberapa Ibrah
  • 1. Qs.2:223 menghapus anggapoan yahudi yang beranggapan bahwa cara jima mempengaruhi fisik anak. Berdasar ayat ini tidak ada kalitan antara cara jima dengan kondisi fisik anak
  • 2. Dimensi seks suami istri, selain berfungsi memenuhi tabi’at insani, tapi juga bernilai ibadah.
  • 3. Dalam hubungan suami istri dipersilakan bervariasi, asalkan tidak melalui dubur. Cara yang bervariasi dapat membina mawaddah suami istri
  • 4. Istri bagaikan ladang yang ditanami benih, maka tanamilah dengan bibit unggul dan dapat menghasilkan yang baik.
  • 5. Lakukan hubungan suami istri untuk meraih kebaikan dan taqwa.
  • 6. Setiap manusia akan berjuma dengan Allah SWT, maka bersiaplah untuk mempertanggung jawabkan kehidupan keluiarga
8. Dengan membangun  keluarga berdasar etika syari’ah, setiap mu`min akan meraih bahagia yang paripurna

9. Kebahagiaan tumah tangga mu`min, bukan hanya selama hidup di dunia, tapi juga di akhirat kelak

[1] shahih al-Bukhari, V h.160
[2] Sunan Abi Dawud, II h.245
[3] Muhajir ialah kaum muslimin yang ikut berhijrah dari Mekah ke Madinah. Sedangkan yang menyambut kedatangan Muhajir di Madinah dinamai Anshar.
[4] Sunan Abi Dawud, II h.249
[5] al-‘Ijab Fi Bayan al-Asbab, I h.556
[6] Tafsir al-Maraghi, II h.158
[7] Musnad Ahmad, III h.199, Sunan al-Nasa`iy, V h.280, al-Mu’jam al-Awsath, V h.241, Sunan al-Bayhaqi, VII h.78
[8] al-Ahadits al-Mukhtarah, V h.112
[9] al-Mustadrak, II h.174
[10] Abu Isa al-Turmudzi, Sunan  al-Turmudzi, IV h.174
[11] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya ulum al-Din, II, h. 52
[12] Abu Ya’la, Musnad Abi Ya’la, VII h.208
[13]  shahih Muslim, I h.249
[14] shahih Muslim, I h.248
[15] Shahih al-Bukhari, I h.110 dan Shahih Muslim, I h.271
[16] Manshur Ali Nashif, At-Taj, I h. 108
[17] sunan al-Turmudzi, I h.181
[18] Manshur Ali Nashif, At-Taj, I h. 108.
[19] Tafsir al-Tsa’alibi, I h.173
[20] Musnad Ahmad, no.20500, Shahih Muslim, no.1674, Sunan Abi Dawud, no.1093
[21] al-tafsir al-Munir, II h.306
[22] Tafsir al-Baydlawi, I h.510
Sumber: (http://saifuddinasm.com/2012/11/14/al-baqarah223-variasi-seks-suami-istri/
 •
“”


ASBAB AL-NUZUL

--KAJIAN KONTEKSTUALISASI--
* Al-Baqarah Ayat 223 *

Disusun oleh - Hasrul
Dosen Pembimbing Dr. Ahmad Khusnul Hakim, MA
[Pakar Tafsir dan Ulum al-Quran Institut PTIQ Jakarta]


Ibrah Kajian:
  • Datangilah istrimu di tempat anak lahir (vagina) dan di tempat yang anak tidak mungkin lahir (dubur) jangan didekati;
  • Istri sebagai ladang mengisyaratkan bahwa anak yang lahir adalah buah dari benih yang ditanam ayah. Istri hanya berfungsi sebagai ladang yang menerima benih. Kalau demikian, jangan salahkan istri jika dia melahirkan anak perempuan sedangkan anda menginginkan anak lelaki;
  • Seorang suami harus cerdas memilih ladang yang subur. Dalam artian, seorang petani tidak baik menanam benih di tanah yang gersang. Pandai-pandailah memilih tanah garapan dan pandai-pandailah memilih pasangan. Tanah yang subur harus di atur masa dan musim tanamnya.
  • Dasar untuk membanagun generasi masa depan yang yang baik dan tangguh, semuanya berawal dari pembinaan kehidupan keluarga. heheee, pastinya jagan lupa baca ini sobat  - 8 Tips Bina Keluarga

A. SURAH AL-BAQARAH AYAT 223

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ ﴿سورة البقرة : ٢٢٣﴾

Artinya: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. [Q.S. al-Baqarah: 223]

B. ASBAB AL-NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 223

Adapun sekilas riwayat-riwayat terkait asbab al-nuzul dari surah al-Baqarah ayat 223, sebagai berikut:

1) Pertama:

وأخرج أحمد و الترمذي عن ابن عباس قال : (جاء عمر إلى الرسول الله صلى اله عليه وسلم فقال : يا رسول الله هلكت قال : وما أهلكك ؟ قال : حولت رحلي الليلة فلم يرد عليه شيئا) فأنزل الله الآية (نساؤكم حرث لكم فاتوا حرثكم أنى شئتم) أقبل و أدبر واتق الدبر والحيضة.

Artinya: Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, berkata: Umar suatu ketika datang menghadap Rasulullah Saw dan berkata: “Ya Rasulullah, celakalah saya! “Nabi bertanya: “apa yang menyebabkan kamu celaka?” Ia menjawab: aku pindahkan ‘sukdufku’ (berjimak dengan istri dari belakang) tadi malam.” Nabi Saw Terdiam dan turunlah ayat ini yang kemudian beliau lanjutkan: “Berbuatlah dari muka ataupun dari belakang, tetapi hindarkanlah dubur (anus) dan bilamana istri sedang”[1]

2) Kedua:

أن رجلا أصاب امرأة في دبرها في زمن رسول الله صلى الله عليه و سلم فأنكر ذلك فأنزل الله (نساؤكم حرث لكم)

Artinya: seseorang menjima’ istrinya dari arah belakang. Maka, orang-orang pun menyalahkan karena hal itu. Lalu turunlah firman Allah (نساؤكم حرث لكم)-a- ”.[2]

3) Ketiga:

أخبرنا سعيد بن محمد الجنائي قال: أخبرنا أبو علي بن أبي بكر الفقيه قال: حدثنا أبو القاسم البغوي قال: حدثنا علي بن جعد قال: حدثنا شعبة، عن محمد ابن المنكدر قال سمعت جابرا قال: قالت اليهود: إن الرجل إذا أتى امرأته باركة كان الولد أحول، فأنزل الله عز وجل: (نساؤكم حرث لكم) الآية.

Artinya: Dari Jabir, berkata: orang-orang Yahudi beranggapan “apabila menggauli istrinya dari belakang ke farjinya, maka anaknya akan lahir bermata juling”. Lalu Allah menurunkan ayat(نساؤكم حرث لكم)-a-”.[3]


C. PEMAHAMAN DAN KONTEKSTUALISASI AYAT 



Allah SWT memberi peluang bagi suami-istri untuk menikmati seks dalam bentuk apapun selama hal itu dilakukan di tempat persemaian. Allah SWT menggunakan kata harts di sini untuk menerangkan bahwa penanaman di lakukan pada tempatnya. (حَرْثٌ) harts ialah tempat tumbuhnya tumbuhan, bisa berbentuk sawah atau kebun. Maka pengertian (فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ) ialah datangilah istrimu di tempat anak lahir (vagina) dan di tempat yang anak tidak mungkin lahir (dubur) jangan didekati. Sebagian manusia salah menafsirkan firman Allah (فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ) dengan tafsiran datangilah istrimu dari mana saja. Ini salah, karena (حَرْثَكُمْ) artinya tempat penanaman (vagina) dan hasil tanaman bagi suami-istri adalah keturunan berupa anak.[4]Dubur bukanlah tempat bercocok tanam, maka tidak mengandung kemungkinan adanya pilihan tempat lain selain dari tempat keluarnya anak. 


Ayat ini mengandung jawaban dari pertanyaan dan beberapa keadaan ketika turunnya; apakah diperbolehkan mendatangi istri pada kemaluannya tetapi dari belakangnya. Maka Allah SWT memberitahukan bahwa hal itu tidaklah mengapa asalkan tetap pada kemaluan (vagina) dan wanita itu suci dari darah haidh dan nifas. Wanita dinamakan lading karena rahimnya dapat mendatangkan anak sebagaimana tumbuh-tumbuhan tumbuh pada bumi yang subur. Jika masalahnya seperti itu, maka seorang suami dapat mendatangi istrinya kapan dia mau, dari depan atau dari belakang selama tujuannya tercapai, yaitu terjaga dari perbuatan keji dan untuk memperoleh keturunan yang baik.[5]

Istri sebagai ladang bukan saja mengisyaratkan bahwa anak yang lahir adalah buah dari benih yang ditanam ayah. Istri hanya berfungsi sebagai ladang yang menerima benih. Kalau demikian, jangan salahkan istri jika dia melahirkan anak perempuan sedangkan anda menginginkan anak lelaki. Sebab, dua kromosom yang merupakan faktor kelamin yang terdapat pada wanita sebagai pasangan homolog adalah (XX) dan pada lelaki sebagai pasangan yang tidak homolog adalah (XY). Jika X pada jantan/lelaki bertemu dengan X yang ada pada wanita, maka anak yang lahir perempuan. Adapun, jika Y pada jantan/lelaki bertemu dengan X pada wanita, maka anak yang lahir lelaki. Jadi bukankah wabita hanya lading dan suami adalah petani yang menabur. 

Namun, seorang suami juga harus cerdas memilih ladang yang subur. Dalam artian, seorang petani tidak baik menanam benih di tanah yang gersang. Pandai-pandailah memilih tanah garapan dan pandai-paidailah memilih pasangan. Tanah yang subur harus di atur masa dan musim tanamnya. Jangan menanam benihsetiap saat, jangan paksa ia berproduksi setiap waktu. Begitupun seorang suami, pilihlah waktu yang tepat, atur masa kehamilan, jangan setiap saat anda panen karena ini merusak ladang.[6] (وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ) Dan kerjakanlah amal baik untuk dirimu. Ayat ini mencegah muslim dari pemahaman bahwa semua itu dilakukan semata-mata demi tersalurnya kepuasaan seksual. Allah memerinthakan agar dengan kepuasaan seksual itu tercapai perlindungan atas apa yang dilahirkan hingga terjamin kelangsungan umat manusia. Hubungan seksual jangan sampai menjadi tujuan utama, tetapi jadikanlah ia sarana untuk mencapai tujuan yang mulia. Untuk itu, setiap muslim dianjurkan mengikuti sunnah Rasul tatkala menikmati hubungan seksual dengan berdoa: 

اللهم جنبي الشيطان و جنبي الشيطان مما رزقتني. 

ArtinyaYa Allah, jauhilah saya dari syetan dan jauhilah apa yang kamu rezekikan kepadaku dari syetan. 

Seorang suami hendaknya berlaku baik terhadap istrinya yang dapat membahagiakannya dan memperpanjang harapan kamu berdua. Jangan tinggalkan ia sendirian, hindarkan darinya segala ganguan, beri ia segala yang sesuai guna menyiapkan pertumbuhan dan perkembangan janin yang akan atau sedang dikandungnya. Bila tiba saatnya ia mengandung, maka beri perhatian lebih besar, kemudian setelah melahirkan, pelihara anakmu hingga dewasa agar dapat bermanfaat untuk orang tuanya, keluarga bahkan kemanusiaan serta bangsa dan tanah air. 

(وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ) dan bertakwallah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. Makna “bertakwalah kepada Allah” yaitu hindarilah murka Allah dan tetap bertakwa dengan prinsip yang tidak diragukan lagi bahwa kamu pasti bertemu dengan-Nya.[7] Jika demikian, jangan sembunyikan sesuatu terhadap pasangan yang seharusnya ia ketahui dan jangan membohonginya. Disisi lain, jangan membongkar rahasia rumah tangga yang sarusnya dirahasiakan. Kalaupun ada cekcok, selesaikan ke dalam dan jangan selesaikan melalui orang lain kecuali jika terpaksa. Allah kelak akan menyelesaikannya karena kelak kamu semua akan menemui-Nya. Demikian kesan al-Haralli, seorang ulama dan pengamal tasawuf yang banyak dikutip pendapatnya oleh al-Biqa’i.[8]

Melihat keadaan sosial saat ini khususnya dalam kaitannya dengan pergaulan bebas sungguh bertentangan dengan pesan ayat ini. Banyak dan mudahnya dijangkau berbagai media informasi merupakan salah satu faktor rusaknya mental dan maraknya pergaulan remaja sekarang. Ini merupakan awal dari rusaknya generasi masa depan umat. Hal inilah yang diisyartakan dalam ayat di atas bahwa hubungan yang baik antara suami-istri akan melahirkan keturunan yang baik pula. Dari sini jugalah dasar untuk membanagun generasi masa depan yang yang baik dan tangguh. Ini semuanya berawal dari pembinaan kehidupan keluarga yang akan melahirkan keturunan. Dengan demikian, awal dan akhir yang baik semuanya berawal dari kita juga.


ENDNOTE



[1] Jalaluddin  al-Suyuti,  Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby, 2011M/1432 H), hal. 41
[2]  Jalaluddin  al-Suyuti,  Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, hal. 42
[3] Al-Wahidy,  Asbab al-Nuzul (Hadramaut: Darr al-Kitab al-Islamiyah, 2010), Cet. I, hal. 48
[4] Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi (Medan: Duta Azhar, 2006), Cet. I, Jilid 1, hal. 711
[5] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006), cet. I, jilid. I,  hal. 365
[6] Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2001), Cet. I, Volume 1, hal. 449
[7] Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi (Medan: Duta Azhar, 2006), Cet. I, Jilid 1, hal. 712
[8] Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2001), Cet. I, Volume 1, hal. 450

REFERENSI PEMBAHASAN

Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti, cet. I, Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006

Al-Suyuti, Jalaluddin. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Darr al-Kitab al-Araby, Cet. V, 2011

Al-Wahidy, Asbab al-Nuzul, cet. I, Hadramaut : Darr al-Kitab al-Islamiyah, 2010

Shihab, Quraish. Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, Cet. I, 2001

Sya’rawi, Mutawalli. Tafsir Sya’rawi, cet. I, jilid I, Medan: Duta Azhar, 2006

pdf Free Download : HERE














Mari kita berdoa serta saling doa mendoakan sesama Islam. 
Doa Melihat Keindahan Alam

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Maksudnya: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran : 191)


Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat


رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Maksudnya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Baqarah: 201) 

Doa Terhindar Dari Kedengkian dalam hati 

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ



Maksudnya: “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hasyr [59]:10) 

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ



Maksudnya: “Dan janganlah kamu mengatakan (bahawa) sesiapa yang terbunuh dalam perjuangan membela Ugama Allah itu: orang-orang mati; bahkan mereka itu orang-orang yang hidup (dengan keadaan hidup yang istimewa), tetapi kamu tidak dapat menyedarinya.” (Al BAQARAH 154) 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam.


Hard grind to unravel MH370 mystery
(¯`• ßý: ¤§º£¡Ð™¤ •´¯)



Kerana Allah kita berusaha untuk hidup dan kemudiannya mati
dan 
kepada Allah kita berdoa supaya Allah perkukuhkan Iman 
kita semua hamba-Nya manusia yang hanya bersifat makhluk. 

Aamiin Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim Ya Rob... 

Meja: peceq.blogspot.com  . 



My Dashboard. 

#
(¯`• ßý: ¤§º£¡Ð™¤ •´¯) 

Tiada ulasan: