Selasa, 23 Oktober 2018

Si Pendusta adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats Tsaqafi. Si Pemusnah pula adalah Al Hajjaj bin Yusuf. 8495.


BIOGRAFI HAJJAJ BIN YUSUF ATS-TSAQAFI
ADMIN · NOVEMBER 20, 2013
Berbicara tentang Hajjaj bin Yusuf, berarti kita mengangkat pembicaraan tentang seorang pemimpin yang zalim, otoriter dan kejam.

Buku sejarah manapun yang kita buka yang meceritakan tentang Hajjaj bin Yusuf, maka tema besar pembicaraannya serupa, semua bercerita tentang kesewenang-wenangannya sebagai seorang pemimpin. Sampa-sampai sebagian ahli sejarah menjadikan namanya sebagai sinonim kata zalim dan menjadikannya sebagai profil batas maksimal kezaliman seorang penguasa.

Namun, Hajjaj juga memiliki sisi-sisi humanis dan jasa-jasa yang layak untuk diapresiasi. Ahli sejarah melulu menceritakan kejelekannya sehingga sosok Hajjaj tidak tergambar secara utuh.

Pada kesempatan kali ini penulis akan memaparkan sisi lain dari sosok Hajjaj bin Yusuf, sehingga jelas bagi kita pribadi Hajjaj bin Yusuf; manis dan pahitnya, baik dan buruknya.

Kelahiran dan Masa Kecil Hajjaj bin Yusuf

Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dilahirkan di daerah Thaif pada tahun 41 H/661 M. Ia dibesarkan di keluarga yang terhormat dari kalangan Bani Tsaqif. Ayahnya adalah seorang yang taat dan berilmu. Sebagian besar waktu sang ayah dihabiskan di kampungnya, Thaif, mengajarkan anak-anaknya Al Quran.

Dengan didikan sang ayah, Hajjaj pun berhasil menghafalkan Al Quran secara sempurna, 30 juz. Kemudian ia mengulang-ulang hafalannya di majlis-majlis para sahabat dan tabi’in, seperti: Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Sa’id bin al-Musayyib, dll. Kemudian ia mulai diberi tanggung jawab untuk mengajar anak-anak lainnya.

Masa kanak-kanak yang ia habiskan di Thaif. Kefasihannya berbahasanya sangat berpengaruh. Di sana juga dia bergaul dengan Kabilah Hudzail, kabilah Arab yang paling fasih dalam berbahasa.

Setelah ditempa dengan baik, Hajjaj tumbuh menjadi seorang orator [pemidato], memiliki kemampuan public speaking yang luar biasa. Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Bashri kemudian Hajjaj.”

Hubungan Hajjaj dengan Abdullah bin Zubair

Saat Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhu memproklamirkan diri menjadi khalifah di Mekah –tahun 64 H/683 M setelah wafatnya Yazid bin Muawiyah-.

Dia berhasil mencuri perhatian masyarakat dunia Islam karena latar belakangnya anak dari sepupu Rasulullah ﷺ cucu dari Abu Bakar ash-Shiddiq dan salah satu sahabat Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Saat itu nyaris hanya Yordania [Jordan] saja yang memberikan loyalitas [kesetiaan] penuh kepada kekhilafahan Bani Umayyah. Marwan bin Hakam sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah hanya mampu mengamankan Mesir dari pengaruh Abdullah bin Zubair. Kemudian diangkatlah Abdul Malik bin Marwan sebagai pewaris tahta.

Perang Saudara di Kota Suci Mekah. 

Untuk membereskan masalah dengan Abdullah bin Zubair, Abdul Malik melirik Hajjaj bin Yusuf karena Hajjaj dikenal sebagai orang yang keras, memiliki karakter kepemimpinan yang kuat dan pantang menyerah.

Kekuatan Abdullah bin Zubair pun bisa didesak sehingga kekuasaannya hanya terbatas di wilayah Hijaz. Akhirnya Hajjaj berhasil mengepung Kota Mekah yang menjadi benteng terakhir Abdullah bin Zubair.

Hajjaj menggempur kota suci itu dengan tembakan-tembakan manjaniq, sampai-sampai  sebagian dari Ka’bah roboh tertimpa peluru-peluru manjaniq pasukan Hajjaj. Hajjaj benar-benar tidak peduli dengan kehormatan kota yang mulia itu. Pengepungan itu akhirnya menewaskan Abdullah bin Zubair dan berakhirlah masa kekuasaannya.

Umat Islam kembali lagi bersatu di bawah satu kepemimpinan, kepemimpinan Bani Umayyah dengan khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Sebagai penghargaan untuk keberhasilan Hajjaj, khalifah melimpahkan kekuasaan Hijaz di tangan Hajjaj bin Yusuf. Dengan demikian kekuasaan Mekah, Madinah, dan Thaif berada di tangan gubernur bertangan besi yang ditakuti. Kemudian kekuasaan Hajjaj ditambah lagi dengan wilayah Yaman dan Yamamah.

Hajjaj bin Yusuf menjadi Gubernur Irak [Iraq]
peta irak
Setelah Basyar bin Marwan – saudara Khalifah Abdul Malik wafat, khalifah menunjuk Hajjaj bin Yusuf menjadi gubernur Irak. Irak adalah sebuah wilayah yang luas yang sedang mengalami gejolak dan kekacauan. 

Orang-orang Khawarij terus membuat makar [pemberontakan] di wilayah ini sehingga stabilitas [kestabilan] sulit dicapai. Sebelumnya penduduk wilayah berani menolak perintah khalifah untuk berangkat berjihad memerangi Khawarij Azariqah. Jadi, menurut khalifah Hajjaj-lah orang yang tepat yang mampu meredam [meredakan] keadaan ini dan mengembalikan keamanan di tengah-tengah rakyat Irak.

Hajjaj menyambut perintah khalifah dan langsung berangkat menuju Irak pada tahun 75 H/694 M. sesampainya di Kufah, ia langsung berkhutbah di tengah-tengah rakyatnya dengan khutbah yang keras bagaikan badai.

Isi khutbahnya adalah ancaman terhadap orang-orang yang merusak stabilitas Irak, mengancam para Khawarij dan teguran bagi mereka yang malas berjihad. Hajjaj mengancam akan membunuh orang-orang yang malas untuk berangkat berjihad. Mendengar ancaman itu, rakyat Kufah pun bersegera berangkat berjihad memerangi Khawarij Azariqah.

Saat suasana Kufah sudah mulai bisa dikendalikan, Hajjaj berangkat menuju Bashrah. Sesampainya di Bashrah, rakyat Bashrah ternyata sudah ciut nyalinya [ciut nyalinya = gementar/kecut perut/bimbang/gusar] untuk berhadapan dengan Hajjaj. Hajjaj kembali mengancam orang-orang Khawarij di kota itu agar tidak membuat onar [mengacau/kacau ganggu] dan kembali mentaati khalifah.

Hajjaj mengatakan, “Sesungguhnya aku mengingatkan dan aku tidak akan menimbang-nimbang setelahnya, aku sudah menegaskan dan aku tidak akan memberi keringanan, aku sudah mengancam dan tidak akan memaafkan…”

Hajjaj berhasil menuntaskan [menyelesaikan] banyak pergolakan yang terjadi di wilayah Irak, seperti pemberontakan Abdurrahman bin al-Asy’ats yang dibaiat menjadi khalifah oleh penduduk Irak.

Awalnya Ibnu al-Asy’ats tidak menginginkan menjadi khalifah, ia hanya tidak senang dengan perlakuan Hajjaj yang teramat zalim, namun situasi kian memanas, dan orang-orang pun membaiatnya menjadi khalifah. Akibat peperangan Hajjaj dan Abdurrahman bin al-Asy’ats ini, ribuan jiwa tewas.

Jasa-jasa Hajjaj bin Yusuf

Berbiacara tentang kezaliman dan kekejaman Hajjaj, hal itu adalah sesuatu yang tak terbantahkan, ia sangat mudah menumpahkan darah orang yang tak bersalah.

Kekejamannya itu menyebabkan beberapa panglima perangnya membelot karena tidak tahan menerima perintah yang menzalimi kelompok tertentu.

Namun pada masanya juga ada masa-masa perbaikan. Setelah pergolakan di Irak dapat ia atasi, ia mulai mewujudkan pembangunan fisik di Irak. Pembangunan kantor-kantor [pejabat], fasilitas [fasiliti/kemudahan] umum dan kesehatan. Sungai-sungai di Irak yang kala itu tidak memiliki jembatan, dibuatkan Hajjaj jembatan untuk mempermudah masyarakat, ia juga membuat bendungan [empangan] untuk menampung air hujan, nantinya bendungan tersebut digunakan untuk kebutuhan [keperluan] masyarakat dan para musafir. Sedangkan daerah-daerah yang jauh dari bendungan diperintahkan menggali sumur [perigi].

Hajjaj juga dikenal detil [teliti] dan selektif  [pemilih] dalam memilih pegawai pemerintahan, ia benar-benar menunjuk orang-orang yang capable [mampu/ahli/pakar] di bidangnya karena ia sangat benci dengan kesalahan [kesilapan] dan keteledoran [kecuaian].

Ia juga berhasil menaklukkan banyak wilayah.  Di antara wilayah yang ditaklukkannya adalah wilayah Balkh, Baikan (بيكند), Bukhara, Kasy, Thaliqan (sebuah kota yang mencakup daerah Thakharistan, kota di Afganistan, dan Thaliqan Qazawin di Iran sekarang), Khawarizm, Kasyan (daerah di wilayah Iran sekarang), hingga kota-kota perbatasan Cina. Mungkin buah dari penakulukkan Hajjaj terhadap Bukhara adalah lahirnya Seorang Imam Besar di Bukhara, Imam Bukhari rahimahullah.

Hajjaj juga memerintahkan sepupunya yang masih sangat belia, Pahlawan Islam yang terkenal, Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi menaklukkan wilayah India, hingga muncullah kerajaan besar di abad pertengahan, Kerajaan Mughal. [Mongol]

Para sejarawan mengaitkan penaklukkan Muhammad bin Qasim ast-Tsaqafi ini dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Bani Tsaqif. 

Ketika Nabi berdakwah di Thaif, dan diusir oleh Bani Tsaqif lalu datanglah Jibril yang menawarkan agar sekiranya malaikat akhsyabain menimpakan gunung kepada orang-orang Thaif, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR Bukhari dan Muslim).

Di antara jasa-jasa Hajjaj yang paling besar adalah keseriusannya [kesungguhannya] dalam memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Al Quran.

Penutup

Para ahli sejarah ketika membicarakan pribadi Hajjaj, ada yang mencela dan ada yang memuji dari sisi-sisi tertentu. Namun mereka tidak berselisih bahwa Hajjaj adalah seorang pemimpin yang lebih mengedepankan cara-cara keras dan sangat mudah memerangi atau membunuh orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada pemerintah tanpa mengedepankan dialog.

Namun memang, kebijakannya ini berhasil membuat keadaan wilayah pimpinannya menjadi aman, suatu pencapaian yang tidak bias didapatkan oleh pemimpin-pemimpin daerah sebelum dirinya.
alquran
Imam Ibnu Katsir mencoba memposisikan diri di pihak yang pertengahan, beliau mengatakan, “Celaan yang terbesar yang diberikan kepada Hajjaj adalah ia seorang yang sangat mudah menumpahkan darah. Cukuplah bagi dia hukuman dari Allah karena perbuatannya ini. Di sisi lain, ia sangat bersemangat dalam berjihad dan menyebarkan Islam ke negeri-negeri lainnya, mudah berderma kepada orang-orang yang memuliakan Al Quran (ahlul Quran). 


Hajjaj wafat di Kota Wasith 21 Ramadhan 95 H bertepatan dengan 9 Juni 714 M. Saat wafat ia hanya meninggalkan uang [wang] sebanyak 300 dirham saja.” 

Diedit dari sumber asal: 
Islamstory.com
Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com
Biografi Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi | Cerita kisah cinta penggugah jiwa
https://kisahmuslim.com/3832-biografi-hajjaj-bin-yusuf-ats-tsaqafi.html

Jumat, 11 Februari 2011
Kematian Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi
Jejak Sa’id Bin Jubair radhiyallahu ‘anhu

Sa’id bin Jubair

Membaca kisah akhir hidup tabi’in agung ini membuat perasaan ana trenyuh, ta’jub karena dialog menjelang kematiannya yang jenius, sedih karena karena cara kematiannya yang mengharukan, salut dan segan karena keberanian dan keteguhannya dalam memegang kebenaran.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah telah berkata mengenai tokoh ini; “Telah terbunuh Sa’id bin Jubair, dan tiada seorangpun di muka bumi ini melainkan ia membutuhkan ilmunya“

Sebelum memasuki dialog di akhir kehidupan beliau yang mengharukan, ada baiknya kalau kita mengetahui latar belakang beliau dan penyebab timbulnya fitnah yang menyebabkan kematian ribuan orang termasuk beliau.

Badannya kekar, sempurna bentuk tubuhnya, lincah gerak-geriknya, cerdas otaknya, jenius akalnya, dan antusias [bersemangat] terhadap kebajikan & menjauhi dosa. Pemuda dari Habsyi ini sadar betul bahwa ilmu adalah jalan yang bisa mengantarkan kepada Allah Ta’ala, dan takwa adalah jalan yang akan menuntun ke jannah. Oleh karena itu dijadikannya takwa di sisi kanannya dan ilmu di sisi kirinya.

Dengan kedua hal tersebut beliau mengarungi samudra kehidupan tanpa berleha-leha dan berpangku tangan. Sejak masih muda, beliau dikenal sebagai pemuda yang akrab dengan buku-buku (ilmu). Sahabat-sahabat senior radhiyallahu ‘anhum seperti Abu Sa’id al-Khudri, Adi bin Hatim ath-Thayy, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah ad-Dausi, Abdullah bin Umar, maupun ummul mukminin A’isyah adalah guru-guru beliau. Tapi Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu adalah guru utama beliau.

Kota Kufah (Baghdad, Iraq) dengan kepimpinan Gabenur Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. 

Dengan setia Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu mengikuti Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yang pada gilirannya ia menjadi seorang ‘alim yang dikenal. Selanjutnya, beliau mengembara dan berkeliling di negara-negara muslimin untuk mencari ilmu. Setelah merasa cukup, beliau memutuskan Kufah (Baghdad – Iraq) sebagai tempat tinggalnya dan kelak beliau menjadi guru dan imam di kota itu.

Kota Kufah waktu itu di bawah kepemimpinan gubernur Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang memegang kekuasaan dengan penuh kesombongan. Dia telah membunuh shahabat Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, menumpas gerakkannya dan menyebarkan rasa takut di seluruh negeri kekuasaannya. Hingga para penduduk merasa ngeri dan takut akan kekejamannya.

Suatu ketika takdir Allah Ta’ala menghendaki terjadinya perselisihan antara Hajjaj dengan panglima perangnya, Abdurrahman bin Asy’ats. Perang argumen [hujah] akhirnya berkembang menjadi fitnah besar (peperangan) yang menelan banyak korban, meninggalkan bekas luka yang dalam di hati kaum muslimin.

Bersamaan perang yang masih berkecamuk, banyak ahli dzimmah dari pedesaan yang memeluk Islam untuk melepaskan diri dari kewajiban membayar jizyah dan mereka berpindah ke kota-kota. Hal ini menyebabkan semakin menipisnya pendapatan negara. Kemudian Hajjaj memerintahkan untuk mengembalikan semuanya ke daerahnya masing-masing dengan paksa. Padahal di antara mereka banyak yang telah lama tinggal di kota. Sehingga banyak di antara mereka yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.

Para wanita, anak-anak dan orang tua banyak yang menangis dan minta tolong sambil berseru; “Wahai umat Muhammad…. Wahai umat Muhammad…” Kemudian keluarlah para ulama dan ahli fikih Bashrah untuk menolong dan mengusahakan agar perintah tersebut dibatalkan, namun hasilnya nihil.

Kekecewaan para ulama itu dimanfaatkan oleh Abdurrahman bin Asy’ats untuk mendukung perjuangannya. Kemudian beberapa tokoh tabi’in dan pemuka Islam turun tangan, di antaranya termasuk Sa’id bin Jubair, Abdurrahman bin Laila, Imam As-Sya’bi, Abul Bukhtari dan lain-lain.

Mulanya kemenangan berpihak di pasukan Ibnu Asy’ats, tapi kemudian sedikit demi sedikit keseimbangan beralih. Sampai akhirnya kekuatan Ibnu Asy’ats dapat dihancurkan. Ibnu Asy’at melarikan diri dan pasukannya menyerah kepada Hajjaj. Setelah itu Hajjaj menyeru kepada pemberontak agar memperbaharui bai’atnya. Di antara mereka ada yang mentaati dan sebagian kecil menghilang, termasuk Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu.

Orang-orang yang menyerah itu datang untuk berbai’at, namun dikejutkan oleh kejadian yang tidak terduga. Hajjaj berkata kepada mereka: “Apakah engkau mengaku kafir karena telah membatalkan bai’atmu kepada amirmu?”

Jika mereka menjawab “Ya”, maka diterima bai’atnya yang baru dan dibebaskan. Namun jika menjawab “Tidak”, maka akan dipenggal lehernya. Sebagian mereka yang lemah, tunduk dan terpaksa mengaku kafir demi keselamatan dirinya, sedangkan sebagian lagi tetap teguh pendirian, tetapi mereka harus membayar dengan lehernya.

♣♣♣

Dalam kejadian itu ada orang tua dari suku Khat’am. Ketika terjadi huru-hara antara dua kubu, dia tidak berpihak kepada siapapun dan tinggal menjauh di belakang sungai Eufrat. Kemudian dia digiring menghadap Hajjaj, lalu terjadilah dialog.

Orang Tua: “Semenjak meletus pertempuran, aku mengasingkan diri ke tempat yang jauh sambil menunggu perang usai. Setelah anda menang dan perang usai, maka aku datang ke mari untuk melakukan bai’at”

Hajjaj: “Celakalah engkau!. Engkau tinggal diam menjadi penonton dan tidak ikut membantu pemimpinmu, sekarang apakah engkau mengaku bahwa dirimu telah kafir?!”.

Orang Tua: “Terkutuklah aku jika selama 80 tahun ini mengabdi kepada Allah Ta’ala, lalu mengaku sebagai kafir”.

Hajjaj: “Jika demikian aku akan membunuhmu”.

Orang Tua: “Jika engkau membunuhku…, demi Allah, yang tersisa dari usiaku selama ini hanyalah seperti waktu kesabaran seekor keledai yang kehausan. Pagi hari dia minum dan sorenya mati. Aku memang sudah menantikan kematian itu siang dan malam hari. Oleh karena itu, lakukanlah semaumu!”.

Akhirnya orang tua itupun dipenggal lehernya.

♣♣♣

Kemudian giliran Hajjaj memanggil Kamil bin Ziyad An-Nukhai dihadapkan dan ditanya;
Hajjaj: “Apakah engkau mengakui dirimu telah kafir?”
Kamil: “Tidak. Demi Allah, aku tidak mengakuinya”.
Hajjaj: “Bila demikian, aku akan membunuhmu”.
Kamil: “Silahkan saja kalau engkau mau melakukannya. Kelak kita akan bertemu disisi Allah, dan setiap pembunuhan ada perhitungannya.”
Hajjaj: “Ketika itu, kesalahan berada di pihakmu”.
Kamil: “Benar, bila engkau yang menjadi hakimnya di hari kiamat itu.”
Hajjaj: “Bunuh dia!”.
Lalu beliau pun dibunuh. Innalillahi wa innaa ilaihi rooji’un.

♣♣♣

Selanjutnya dihadapkan pula seorang (Fulan) yang sudah lama menjadi buronan [buruan] Hajjaj, karena dianggap menghinanya.
Hajjaj: “Kurasa orang yang di hadapanku ini mustahil mengakui dirinya kafir”.
Fulan: “Janganlah tuan memojokkan aku dulu dan jangan berdusta pula tentang diriku. Sesungguhnya akulah orang yang paling kafir di muka bumi ini, lebih kafir daripada Fir’aun yang semena-mena itu”.

Pecundang loe…!!!

Akhirnya Hajjaj terpaksa membebaskannya, padahal ia sudah gatal untuk membunuhnya. Ketipu loe, Hajjaj…

♣♣♣

Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu merasa yakin kalau dirinya tertangkap, maka akan menghadapi dua pilihan seperti yang lain juga. Dua pilihan, yang paling manis dari keduanyapun begitu pahit.

Oleh sebab itu, beliau memilih keluar dari Iraq, menyembunyikan diri dari masyarakat. Maka berkelilinglah beliau di bumi Allah dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh Hajjaj dan kaki tangannya, hingga akhirnya tinggal di sebuah desa di dekat Makkah. Selama sepuluh tahun beliau tinggal di sana, waktu yang cukup lama untuk menghilangkan dendam dan kedengkian Hajjaj.

Akan tetapi ada perkembangan situasi yang tak terduga. Seorang Amir baru didatangkan ke Makkah, yaitu Khalid bin Abdullah Al-Qasri yang juga berasal dari bani Umayah (masih mempunyai garis keturunan dengan Hajjaj).

Para shahabat beliau merasa gelisah dan khawatir karena tahu kekejaman wali baru itu. Mereka menduga wali yang baru tersebut pasti akan menangkap beliau. Di antara mereka segera menemui beliau dan memintanya untuk pergi meninggalkan Makkah. Namun beliau menjawab; “Demi Allah, sudah lama aku bersembunyi, sampai malu rasanya kepada Allah Ta’ala. Aku memutuskan untuk tinggal disini, pasrah dengan kehendak Allah Ta’ala”.

Dugaan shahabat beliau tentang kekejaman Khalid ternyata tidak meleset. Begitu mengetahui tempat persembunyian Sa’id bin Jubair, dia langsung mengirimkan pasukannya untuk menangkap beliau lalu mengirimkannya kepada Hajjaj. Tentara Khalid mengepung rumah syeikh tersebut lalu menangkap dan mengikatnya di depan murid-murid dan para shahabatnya.

Beliau menghadapi itu dengan tenang, beliau menoleh kepada para shahabatnya dan berkata; “Saya merasa akan terbunuh di tangan penguasa yang zhalim itu. Sesungguhnya pada suatu malam aku pernah melakukan ibadah bersama dua orang teman, kami merasakan manisnya ibadah dan berdoa kepada Allah Ta’ala, lalu kami bertiga memohon syahadah (mati syahid). Kedua orang kawan tersebut sudah mendapatkannya, tinggal aku yang masih menunggu.”

Belum lagi beliau selesai bicara, seoran gadis kecil muncul dan demi melihat beliau diikat dan diseret oleh para prajurit, dia langsung merangkul Sa’id bin Jubair sambil menangis. Beliau menghiburnya dengan lembut dan berkata; “Katakanlah kepada ibumu wahai puteriku, kita akan bertemu nanti di jannah, In Syaa Allah.”

Bocah itu pun lalu pergi.

♣♣♣

Sampailah utusan yang membawa Sa’id bin Jubair, -seorang imam yang zahid, ‘abid dan berbakti itu di kota Wasit. Kemudian beliau dihadapkan kepada Hajjaj. Setelah beliau berada di hadapan Hajjaj, dengan pandangan penuh kebencian Hajjaj bertanya;

Hajjaj: “Siapa namamu?”
Sa’id: “Sa’id (bahagia) bin Jubair (perkasa)”.
Hajjaj: “Yang benar engkau adalah Syaqi (celaka) bin Kasir (lumpuh)”.
Sa’id: “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada engkau”.

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?”
Sa’id: “Apakah yang kau maksud adalah Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
Hajjaj: “Benar”.
Sa’id: “Manusia utama di antara keturunan Adam ‘alaihissalam dan nabi yang terpilih. Yang terbaik di antara manusia yang hidup dan yang paling mulia di antara yang telah mati. Beliau telah mengemban [mengutus] risalah dan menyampaikan amanat, beliau telah menunaikan nasehat bagi Allah Ta’ala, kitab-Nya, bagi seluruh kaum muslimin secara umum dan khusus”.

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?”
Sa’id: “Ash-shidiq khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau wafat dengan terpuji dan hidup dengan bahagia. Beliau mengambil tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa merubah ataupun mengganti sedikitpun darinya”.

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Umar?”
Sa’id: “Beliau adalah al-Faruq, dengannya Allah Ta’ala membedakan antara yang haq dan yang bathil. Beliau adalah manusia pilihan Allah dan rasul-Nya, beliau melaksanakan dan mengikuti jejak kedua pendahulunya, maka dia hidup terpuji dan mati sebagai syuhada”.

Hajjaj: “Bagaimana dengan Utsman?”
Sa’id: “Beliau yang membekali pasukan Usrah dan meringankan beban kaum muslimin dengan membeli sumur ‘Ruumah’ dan membeli rumah untuk dirinya di jannah. Beliau adalah menantu Rasulullah atas dua orang puteri beliau dan dinikahkan karena wahyu dari langit. Lalu beliau terbunuh di tangan orang zhalim”.

Hajjaj: “Bagaimana dengan Ali?”
Sa’id: “Beilau adalah putera paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemda pertama yang memeluk Islam. Beliau adalah suami Fatimah Az-Zahra puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayah dari Hasan dan Husein yang merupakan dua pemimpin pemuda ahli jannah”.

Hajjaj: “Khalifah yang mana dari Bani Umayah yang paling kau sukai?”
Sa’id: “Yang paling diridhai Pencipta (Rabb) mereka”.
Hajjaj: “Manakah yang paling diridhai Rabb-nya?”.
Sa’id: “Ilmu tentang itu hanyalah diketahui oleh Yang Maha Mengetahui yang zhahir dan yang tersembunyi”.

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang diriku?”.
Sa’id: “Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri”.
Hajjaj: “Aku ingin mendengarkan pendapatmu”.
Sa’id: “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu”.
Hajjaj: “Aku harus tahu dan mendengarnya darimu”.
Sa’id: “Yang kuketahui, engkau telah melanggar Kitabullah, engkau mengutamakan hal-hal yang kelihatan hebat padahal justru membawamu ke arah kehancuran dan menjerumuskanmu ke neraka”.
Hajjaj: “Kalau begitu, demi Allah aku akan membunuhmu”.
Sa’id: “Bila demikian, maka engkau merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu”.

Hajjaj: “Pilihlah bagi dirimu cara-cara kematian yang kau sukai”.
Sa’id: “Pilihlah sendiri wahai Hajjaj. Demi Allah, untuk setiap cara yang kau lakukan, Allah akan membalasmu dengan cara yang setimpal di akhirat nanti”.

Hajjaj: “Tidakkah engkau menginginkan ampunanku?”.
Sa’id: “Ampunan itu hanyalah dari Allah Ta’ala, sedangkan engkau tak punya ampunan dan alasan lagi di hadapan-Nya”.
Memuncaklah kemarahan Hajjaj. Kepada algojonya diperintahkan;

Hajjaj: “Siapkan pedang dan alasnya”.
Sa’id tersenyum mendengarnya, sehingga bertanyalah Hajjaj,
Hajjaj: “Mengapa engkau tersenyum?”
Sa’id: “Aku takjub atas kecongkakanmu terhadap Allah Ta’ala dan kelapangan Allah terhadapmu”.

Hajjaj: “Bunuh dia sekarang !!”.
Sa’id: (menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala surat Al-An’am ayat 79, yang artinya); “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah“. (Al-An’am: 79).

Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!”.
Sa’id: (membaca surat Al-Baqarah ayat 115); “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah“.

Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!”
Sa’id: (membaca surat Thaha ayat 55); “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain“.

Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini!. Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah seperti dia.”

Sa’id: (mengangkat kedua tangannya sambil berdoa;) “Ya Allah…, janganlah lagi Engkau beri  kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

♣♣♣

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu, mendadak Hajjaj terserang demam. 

Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. 

Tidurnya tak nyenyak lagi, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan menggigau; “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku!. Ini Sa’id bin Jubair berkata; “Mengapa engkau membunuhku?”. Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri; “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair?. Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”

Kondisi [keadaan] itu terus berlangsung hingga dia meninggal. 

Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj; “Apa yang Allah Shubhanahu wa Ta’ala perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”. Dia menjawab; “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat”

Shuwaru Min Hayati At-Tabi’in atau “Jejak Para Tabi’in”, -edisi Indonesianya-, hal. 185 – 197, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya.

PENDIDIKAN UNTUK SEMUA: Kematian Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi
http://smanpambg.blogspot.com/2011/02/kematian-hajjaj-bin-yusuf-ats-tsaqafi.html

ANTARA SA’ID BIN JUBAIR & AL-HAJJAJ ATS-TSAQAFI
March 29, 2012 

Al-Hajjaj bin Yusuf adalah seorang fasik dari suku Tsaqif, gubernur dari Raja Abdul Malik menyukai hal yang syubhat-syubhat dan mencari orang-orang yang menentang hukum pemimpin dan rajanya di seluruh wilayah Islam. Diapun menimpakan bencana kepada para penentang pemerintah tanpa belas kasihan dan tanpa rasa takut terhadap Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.

Khalid bin Abdul Malik Al-Qusari gubernur kota Makkah Al-Mukarramah mengetahui keberadaan Ibnu Jubair di wilayahnya, lalu memerintahkan untuk menangkap Ibnu Jubair dan memenjarakannya. Dan dia ingin segera menyelesaikan masalah Ibnu Jubair. Maka dikirimlah Ibnu Jubair kepada Al-Hajjaj bin Yusuf bersama Ismail bin Wasith Al-Bajali.

Al-Hajjaj bertanya, “Siapa namamu?”

Sa’id menjawab, “Sa’id bin Jubair.”

Al-Hajjaj berkata: “Kamu adalah orang yang celaka anak dari orang yang binasa.”

Sa’id menjawab, “Ibuku lebih tahu dengan namaku daripada dirimu.”

Al-Hajjaj berkata, “Celakalah ibumu dan celakalah dirimu.”

Sa’id berkata, “Bukan dirimu yang mengetahui per¬kara ghaib.”

Al-Hajjaj berkata, “Kamu harus merasakan api mem¬bara di dunia.”

Sa’id berkata, “Kalau aku mengetahui bahwa siksa api naar di tanganmu niscaya aku akan menjadikan dirimu tuhan.”

Al-Hajjaj berkata, “Apa pendapatmu tentang Muhammad?”

Sa’id menjawab, “Nabi penebar kasih sayang dan imam pemberi petunjuk.”

Al-Hajjaj berkata, “Apa pendapatmu tentang Ali, apakah dia di jannah atau di naar?”

Sa’id berkata, “Kalau aku masuk jannah, aku akan mengetahui orang-orang yang di dalam jannah dan para penghuninya.”

Al-Hajjaj berkata, “Apa pendapatmu tentang para Khalifah?”

Sa’id menjawab, “Mereka bukan tanggung jawab saya.”

Al-Hajjaj berkata, “Siapakah yang paling kamu ka¬gumi di antara mereka?”

Sa’id menjawab, “Yang paling diridhai oleh Pencipta¬ku.”

Al-Hajjaj berkata, “Siapakah di antara mereka yang paling diridhai oleh Sang Pencipta?”

Sa’id menjawab, “Ilmu hal ini di sisi Dzat yang mengetahui rahasia mereka dan yang tersembunyi dari mereka.”

Al-Hajjaj berkata, “Aku senang kamu berkata jujur kepadaku.”

Sa’id menjawab, “Meskipun aku tidak menyukaimu, aku tidak akan berdusta kepadamu.”

Al-Hajjaj berkata, “Kenapa kamu tidak pernah ter¬tawa?”

Sa’id menjawab, “Bagaimana seorang makhluk yang diciptakan dari tanah bisa tertawa, sedangkan tanah akan dimakan oleh api!”

Al-Hajjaj berkata, “Kenapa kami tertawa?”

Sa’id menjawab, “Hati kita tidak sama.”

Kemudian Al-Hajjaj memerintahkan untuk diambilkan intan, permata dan mutiara lalu dikumpulkan dihadapan Sa’id.

Sa’id berkata, “Jika kamu mengumpulkan ini untuk menjaga dirimu dari ketakutan pada hari kiamat, maka alangkah baiknya. Jika tidak, sungguh satu saja guncangan hari kiamat bisa melalaikan seorang ibu yang menyusui terhadap anak susuannya. Tidak ada kebaikan di dunia ini kecuali yang baik dan suci.”

Kemudian Al-Hajjaj meminta tongkat dan seruling. Ketika Al-Hajjaj memukulkan tongkat dan meniup seruling menangislah Said.

Al-Hajjaj berkata, “Apa yang membuatmu menangis? Apakah ini permainan?”

Sa’id berkata, “Ini adalah kesedihan, adapun tiupan seruling telah mengingatkanku akan hari yang besar (hari kiamat) yaitu hari ketika ditiup terompet. Adapun tong¬kat, itu adalah pohon yang dipotong dengan tanpa ke¬benaran. Sedangkan cambuk dari kulit domba, maka apa ada domba yang dibangkitkan pada hari kiamat?”

Al-Hajjaj berkata, “Celakalah kamu wahai Sa’id.”

Said menjawab, “Tidak ada kecelakaan bagi orang yang dijauhkan dari naar dan dimasukkan jannah.”

Al-Hajjaj berkata, “Wahai Sa’id, pilihlah cara pem¬bunuhan yang aku akan membunuhmu dengannya.”

Sa’id berkata, “Pilihlah sendiri. Demi Allah, tidaklah kamu membunuhku dengan satu cara kecuali Allah akan menyiksamu dengan cara yang sama pada hari kiamat.”

Al-Hajjaj berkata, “Apakah kamu ingin ampunanku?”

Said berkata, “Jika ampunan dari Allah aku mengharapkannya. Adapun dirimu, kamu tidak akan terbebas dari dosamu dan tidak ada udzur bagimu.”

Al-Hajjaj berkata (kepada tentaranya), “Bawalah dia dan bunuhlah.”

Tatkala Said keluar dari hadapan Al-Hajjaj, dia tertawa. Maka Al-Hajjaj diberitahu akan hal ini, lalu mereka mengembalikan Sa’id kepada Al-Hajjaj.

Al-Hajjaj berkata, “Apa yang membuatmu tertawa?”

Sa’id menjawab, “Aku heran dengan keberanianmu kepada Allah terhadap diriku dan kasih sayang Allah terhadap dirimu.”

Maka Al-Hajjaj memerintahkan untuk didatangkan tikar dari kulit dan dibentangkan. Lalu Al-Hajjaj berkata, “Bunuhlah dia.”

Sa’id berkata, “Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dalam kon¬disi lurus dan Islam dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Al-Hajjaj berkata, “Arahkan dia ke selain kiblat.”

Sa’id berkata, “Kemanapun kamu menghadapkan wajahmu, di sanalah wajah Allah.”

Al-Hajjaj berkata, “Sungkurkan wajahnya ke tanah.”

Said berkata, “Dari tanah Kami menciptakan kalian dan pada tanah Kami mengembalikan kalian dan dari tanah Kami mengeluarkan kalian untuk kedua kalinya.”

Al-Hajjaj berkata, “Sembelihlah dia.”

Said berkata, “Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ambillah syahadat ini dariku sampai kamu bertemu denganku pada hari Kiamat. Ya Allah, janganlah kamu kuasakan dia kepada seorangpun untuk dia bunuh setelahku.” (Wafiyyatul A’yaan, 2/371)

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-bentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau, “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkammu! Ini Sa’id bin Jubair berkata, ‘Mengapa engkau membunuhku’?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri, “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”

Kondisi itu terus berlangsung hinga dia meninggal. Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj, “Apa yang Allah perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”

Dia menjawab, “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat.”

Sumber: Disalin dari buku “Mahkota Di Atas Sajadah, Abdullah Humaid al-Falasi & Wahid Abdussalam Bali, Penerbit at-Tibyan, Hal.33-38  & tambahan dari Buku “Mereka Adalah Para Tabi’in”, Pustaka at Tibyan.

Artikel: www.kisahislam.net
Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam
Antara Sa’id bin Jubair & Al-Hajjaj Ats-Tsaqafi – Kisah Teladan & Sejarah Islam
http://www.kisahislam.net/2012/03/29/antara-said-bin-jubair-al-hajjaj-ats-tsaqafi/

Al Hajjaj bin Yusuf: pemimpin yang terkanal dengan kezaliman nya namun dia berjasa besar bagi Islam
Sabtu, Agustus 24, 2013 
Al Hajjaj bin Yusuf.....
May 2, 2013 9:34 am | Persona

Al Hajjaj bin Yusuf: Kezhaliman dan Jasanya bagi Islam
aldafla.com

Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi adalah salah seorang gubernur di Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik bin Marwan. Seorang yang zhalim, banyak membunuh, dan fasiq. Walaupun demikian, beliau turut memiliki jasa dan kebaikan. Memiliki sumbangan dalam meletakkan baris bacaan Al Qur’an, membantu banyak usaha meluaskan kerajaan Bani Umayyah. Beliau juga termasuk tokoh yang ahli dalam strategi peperangan. Ia berasal dari kabilah Tsaqif.
Kata Imam Al Hafizh Adz Dzahabi rahimahullah (Wafat: 748H)  mengenai Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi:

“Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran. Aku (Imam Adz Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At Tarikh Al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Az Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) shalat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.” (Siyar A’lam An Nubala’, 4/343)

Kata Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah:

“Dan adapun sang pemusnah adalah Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsqafi ini. Beliau seorang yang amat memusuhi, beliau amat membenci anggota keluarga ‘Ali, ini karena kecenderungannya kepada keluarga Marwan Bani Umayyah. Beliau juga seorang yang angkuh lagi bodoh, berani menumpahkan darah hanya karena kesalahan yang syubhah (samar).

Diriwayatkan dari beliau kata-kata yang sangat buruk, yang zahirnya adalah kufur, sebagaimana yang telah kami kemukakan. Jika beliau bertaubat darinya dan berlepas diri darinya, maka itu yang diharapkan, tetapi jika tidak, maka ia tetap dalam keadaan tersebut. Cuma diragukan bahwa itu adalah kata-kata yang diriwayatkan dari beliau dengan berbagai penambahan, karena golongan Syi’ah sangat membencinya karena beberapa perkara. Jadi, mungkin terjadi mereka mengubah sebagian perkataannya dan menambah padanya sehingga mereka melabelnya sebagai perkataan-perkataan buruk lagi menjijikkan.”

Kata Al Hafizh Ibnu Katsir lagi:

“Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus dalam urusan kemaluan, walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah. Maka Allah Ta’ala-lah yang lebih mengetahui kebenaran dan hakikat-hakikat segala urusan serta rahsia-rahsianya, serta hal-hal yang tersembunyi di dalam dada.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/153)

Dalam Sunan At Tirmidzi disebutkan riwayat, Hisyam bin Hassan berkata:

“Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), maka jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” (Sunan At Tirmidzi, no. 2220. Dinilai hasan oleh At Tirmidzi. Lihat juga Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzib At Tahdzib, 2/211)

Al Ashma’i rahimahullah berkata:

“Di suatu pagi, Sulaiman bin ‘Abdul Malik membebaskan 81,000 orang tawanan, setelah Al Hajjaj (selepas kematiannya), penjara-penjara diperiksa lalu mereka dapati ada 33,000 orang yang belum dilaksanakan atas mereka pemutusan hukum dan tidak juga penyaliban.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/156)

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah menyebut namanya dengan sebutan “musuh Allah”. Kata Al Hafizh Ibnu Katsir: Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghassani berkata, dari ayahnya, dari datuknya, dari ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, beliau berkata:

“Aku tidak sedikitpun merasa iri hati (dengki) terhadap Al Hajjaj si musuh Allah itu, melainkan terhadap sikapnya yang cinta kepada Al Qur’an dan sikap pemurahnya terhadap ahlul Qur’an, serta ucapannya sebelum wafat, “Ya Allah ampunilah aku, sesungguhnya manusia menyangka bahwa Engkau tidak bertindak.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/158)

Sampai-sampai ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz membuat permisalan yang menggambarkan betapa jahat dan berpengaruhnya Al Hajjaj:

“Kalau sekiranya setiap umat datang dengan para penjahatanya manakala kita pula datang dengan membawa Al Hajjaj, niscaya kita akan mengalahkan semua penjahat tersebut.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 6/267, 9/158)

Malah terdapat perkataan sebagian salaf yang seakan-akan mengkafirkannya.

Ibnu ‘Asakir meriwayatkan perkataan Asy Sya’bi rahimahullah (Wafat: 104H):
“Al Hajjaj beriman dengan kejahatan dan thaghut, serta kafir terhadap Allah Al ‘Adziim.” (Ibnu ‘Asakir, Tarikh dimasyq, 12/187. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/157)

Imam Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata:

“Suatu yang ajaib terhadap sahabat-sahabat kita dari ‘Iraq, mereka menamakan Al Hajjaj sebagai orang beriman?!” (Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala’, 5/44. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/157)

Sebagian Kejahatan dan Nukilan Kekejaman Al Hajjaj

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

‘Uqbah bin Mukarram Al ‘Ammiy memberitahu kami, katanya Ya’qub iaitu Ibnu Ishaq Al Hadhrami memberitahu kami, katanya Al Aswad bin Syaiban memberitahu kami, dari Abu Naufal, katanya:
Aku melihat (mayat) ‘Abdullah bin Az Zubair (dalam keadaan tergantung) di ‘Aqabah Al Madinah (di Makkah), dan kaum Quraisy serta orang-orang lainnya pergi ke arahnya, termasuklah ‘Abdullah bin ‘Umar, apabila beliau berdiri di hadapannya (mayat Ibn Az Zubair) beliau mengucapkan:

“Wahai Abu Khubaid (‘Abdullah bin Az Zubair), semoga keselamatan ke atas engkau, semoga keselamatan ke atas engkau, semoga keselamatan ke atas engkau! Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini, Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini, Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui seseorang yang selalu berpuasa, selalu qiyam (bangun malam untuk beribadah), dan selalu menyambung silaturrahim selain dari engkau. Demi Allah, engkau yang dikatakan sejahat-jahat ummat, sebenarnya adalah sebaik-baiknya.”

‘Abdullah bin ‘Umar pun berlalu pergi. Kata-kata Ibnu ‘Umar telah sampai kepada Al Hajjaj lalu dia mengutus seseorang untuk menurunkan mayat ‘Abdullah bin Az Zubair, kemudian mayat tersebut dicampakkan ke perkuburan Yahudi.

Kemudian Al Hajjaj menghantar utusan kepada Asma’ Binti Abu Bakr agar Asma’ menemuinya, tetapi Asma’ enggan. Utusan tersebut pulang dan kembali membawa pesan Al Hajjaj:

“Engkau mesti datang berjumpa dengan aku atau aku akan hantar seseorang yang akan mengheret engkau sambil menarik rambutmu.”

Asma’ tetap juga enggan.

Katanya, “Aku tidak akan berjumpa dengan engkau hinggalah engkau hantar seseorang yang akan mengheret aku dengan rambutku.”

Al Hajjaj  yang mendengarnya (sebagaimana disampaikan oleh utusannya) pun berkata, “Ambilkan alas kakiku”.

Lalu utusannya mengambilkan alas kaki untuknya, dan Al Hajjaj pergi menuju kepada Asma’ dalam keadaan marah, lalu berkata:

“Apa pendapat engkau tentang apa yang aku lakukan terhadap si musuh Allah itu (‘Abdullah bin Az Zubair)?”

Asma’ menjawab: “Aku lihat engkau telah menghancurkan kehidupan dunianya, manakala dia pula telah menghancurkan kehidupan akhirat engkau. Aku dengar engkau memanggilnya (sebagai), “Wahai anak Dzat An Nithaqain (pemilik dua tali pinggang).” Sesungguhnya demi Allah, akulah Dzat An Nithaqain; tali pinggang yang pertama aku gunakan untuk menghantar makanan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar, manakala tali pinggang kedua tidak dapat ditandingi oleh mana-mana wanita pun. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah memberitahu kami bahwa di Thaqif nanti ada seorang pendusta dan seorang pemusnah, si pendusta itu kami telah mengenalinya, manakala si pemusnah pula, aku tidak kenal yang lain melainkan engkau.”

Al Hajjaj lalu bangkit beredar dan tidak membalas kata-kata Asma’. (Shahih Muslim, no. 2545)

Imam An Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menjelaskan: “Perkataan Asma’ mengenai si Pendusta, “kami telah mengenalinya”, yang beliau maksudkan dengannya adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats Tsaqafi, dia ini sangat teruk sifat pendustanya, dan antara tuduhannya yang paling buruk ialah Jibril Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang kepadanya. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan si pendusta adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid, manakala si pemusnah pula adalah Al Hajjaj bin Yusuf.” (Syarah Shahih Muslim, 16/100)

Imam An Nawawi juga mengatakan: “Dan mazhab Ahlul Haq (pengikut kebenaran) adalah meyakini Ibnu Az Zubair itulah yang dizhalimi, manakala Al Hajjaj dan para pengikutnya pula adalah khawarij (iaitu yang keluar memberontak) terhadap Ibn Az Zubair.” (Syarah Shahih Muslim, 16/99)

Ini karena Al Hajjaj-lah yang sengaja memerangi wilayah dan kekhilafahan ‘Abdullah bin Az Zubair di Hijjaz, Madinah, dan Makkah.

Al Hafizh Ibnu Katsir meriwayatkan perkataan Al Hajjaj:

“Demi Allah, kalau aku memerintahkan kamu semua keluar melalui pintu ini, tetapi kamu semua keluar melaui pintu yang lain, maka halallah darah kamu di sisi aku, dan tidak aku temui seorang lelaki yang membaca (Al Qur’an) mengikut qiraat Ibnu Ummu ‘Abd (‘Abdullah bin Mas’ud) melainkan aku akan memancung kepalanya, dan akan aku kikis bacaannya dari mushaf, walaupun dengan tulang rusuk babi.”

Selain itu, Al Hajjaj pernah berkata di mimbar Wasith (di kota Wasith):

“‘Abdullah bin Mas’ud adalah pemimpin golongan munafiq. Kalau aku menemuinya aku akan basahkan muka bumi dengan darahnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/149)

Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan: “Dan ini termasuk kemelampauan Al Hajjaj, semoga Allah memburukkannya, dan termasuk kelancangannya mengungkapkan perkataan yang buruk, serta menumpahkan darah tanpa haq. Beliau dengki dengan qira’ah (bacaan) Ibnu Mas’oud radhiyallahu ‘anhu karena menyelisihi qira’ah pada mushaf induk yang dihimpunkan manusia pasa masa ‘Utsman.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/149)

Al Qa’qa’ bin Ash Shalt berkata: “Al Hajjaj pernah berkhuthbah lalu beliau mengatakan dalam khuthbahnya, “Sesungguhnya Ibnu Az Zubair mengubah Kitab Allah.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/140)

Demikianlah sifat kejamnya Al Hajjaj, sampai tiada adab dan hormat terhadap orang-orang yang amat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, iaitu para sahabatnya ridhwanullah ‘alaihim ajma’in. Demikian juga sikap beliau terhadap para ulama selain sahabat.

Sampai-sampai sebagian salaf mengatakan tentangnya: “(Seolah-olah) tidak ada satu pun dari larangan Allah ‘Azza wa Jalla melainkan telah dilakukan oleh Al Hajjaj.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/1153)

Saat Kematian Al Hajjaj

Atas sebab kekejaman dan kekejian Al Hajjaj, kematian beliau dianggap sebagai khabar gembira oleh sebagian salaf. Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H) merakamkan: “Lebih dari seorang yang meriwayatkan bahwa Al Hasan (Al Bashri) ketika dikabarkan dengan berita gembira mengenai kematian Al Hajjaj, beliau langsung melakukan sujud syukur kepada Allah Ta’ala yang mana sebelumnya beliau bersembunyi, maka setelah itu beliau menonjolkan diri. Lalu beliau berdoa: “Ya Allah, matikanlah dia dan hilangkanlah sunnahnya (kebiasaan-kebiasaannya) dari diri kami.”

Hammad bin Sulaiman berkata, “Apabila aku mengkhabarkan kepada Ibrahim An Nakha’i tentang kematian Al Hajjaj, beliau pun menangis karena gembira.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/159)

Abu Khaitsamah berkata: “Ziyad bin Ar-Rabi’ Al Haritsi mengatakan kepada para penghuni penjara, “Al Hajjaj akan mati dalam sakitnya ini di malam sekian.”

Lalu ketika tiba malam tersebut, tidak seorang pun penghuni penjara yang tidur karena sangat gembira. Mereka duduk menunggu hingga mendengar berita kematiannya. Iaitu pada malam 27 Ramadhan.”

Al Hafizh Ibnu Katsir menambah: “Pendapat lain menyebutkan, hal tersebut berlaku pada lima hari terakhir bulan Ramadhan. Pendapat lain lagi, ia berlaku pada bulan Syawal di tahun tersebut. Umurnya ketika itu adalah 55 tahun, karena kelahirannya adalah pada tahun Al Jama’ah (tahun di mana Al Hasan bin ‘Ali menyerahkan kekhalifahan kepada Mua’wiyah – Pent.), tahun 40H. Pendapat lain mengatakan setelah itu. Yang lain lagi mengatakan, setahun setelahnya.

Beliau meninggal di Wasith, dan kuburannya diratakan serta disirami air padanya supaya tidak dibongkar dan dibakar. Wallahu a’lam.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)

Al Ashma’i berkata: “Yang menakjubkan tentang Al Hajjaj, adalah apa yang beliau tinggalkan hanya 300 dirham.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)

Kata Al Waqidi, “Bahwa Al Hajjaj meninggal dengan meninggalkan 300 dirham, sebuah mushaf, sebilah pedanh, pelana, sekedup, dan seratus baju besi (armour) yang diwakafkan.” (Tarikh Dimasyq, 12/191. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/159)

Syihab bin Khirasy berkata:

“Al Hajjaj mewasiatkan 900 perisai atau baju besi, 600 di antaranya adalah milik orang-orang munafiq warga ‘Iraq yang mereka berperang dengannya, sedangkan 300 lagi adalah milik orang-orang Turki.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)

Al Hajjaj Adalah Bencana Ke Atas Penduduk ‘Iraq

Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Wafat: 728H) menyebutkan:

“Al Hasan Al Bashri pernah berkata: “Sesungguhnya kemunculan Al Hajjaj adalah disebabkan dari azab Allah, maka janganlah kamu melawan azab Allah dengan tangan-tangan kamu. Akan tetapi wajib bagi kamu untuk tunduk dan memohon dengan merendah diri karena sesungguhnya Allah telah berfirman (maksudnya):

“Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (Surah Al Mukminun, 23: 76)

Thalq bin Habib berkata: “Lindungilah dirimu dari fitnah dengan ketaqwaan.” Maka dikatakan kepadanya, “Simpulkanlah untuk kami apa itu ketaqwaan?” Beliau berkata, “Iaitu engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah dengan cahaya (petunjuk) dari Allah dengan berharap rahmat Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan azab Allah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Ad Dunya).” (Ibnu Taimiyyah, Minhajus Sunnah An Nabawiyyah, 4/527-531 – Mu’asasah Al Qurthubah)

Demikian jugalah yang diungkapkan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah: “Secara umum, bahwa Al Hajjaj adalah bencana yang ditimpakan ke atas penduduk ‘Iraq karena dosa-dosa lalu mereka dan perbuatan khuruj mereka kepada para pemimpin, menghinakan mereka, memaksiati mereka, menyelisihi mereka, dan tidak menghargai mereka.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/151)

Al Hafizh dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari jalan Ya’qub bin Sufyan (berkenaan apa yang pernah berlaku ketika zaman pemerintahan ‘Umar): “Seorang lelaki datang kepada ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu memberitahunya bahwa warga ‘Iraq melempari wakil pemimpin (gubernur) mereka, maka ‘Umar pun keluar (untuk shalat) dalam keadaan marah, lalu beliau mengimami kami suatu shalat, lalu beliau lupa di dalam shalatnya sehingga orang-orang (para makmum) mengatakan, “Subhanallah, Subhanallah…”

Setelah salam, ‘Umar pun menghadap kepada para makmum lalu berkata, “Siapakah di sini dari kalangan penduduk Syam?”

Lalu berdirilah seorang lelaki, kemudian berdiri juga lelaki yang lainnya, kemudian aku (perawi Ya’qub bin Sufyan) juga berdiri sebagai orang ketiga atau keempat. Lalu ‘Umar berkata: “Wahai warga Syam, bersiap-siaplah kalian untuk menghadapi penduduk ‘Iraq. Karena Syaitan telah bertelur di tengah-tengah mereka dan menebarkan anak-anaknya. Ya Allah, sesungguhnya mereka telah menyamarkan diri mereka, maka samarkanlah atas mereka, dan segeralah ke atas mereka dengan anak Tsaqif yang memimpin (berhukum) dengan hukum jahiliyyah. Tidak akan diterima kebaikan dari orang baik mereka, dan tidak akan dimaafkan dari orang buruk mereka.”

Kata Al Hafizh Ibnu Katsir, “Kami juga telah meriwayatkan di dalam kitab Musnad ‘Umar bin Al Khaththab, dari jalan Abu Azabah Al Himshi dari ‘Umar yang semisal dengannya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/151-152)

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata (berdoa):

“Ya Allah, aku telah memberi mereka amanah tetapi mereka mengkhianatiku, aku telah menasihati mereka tetapi mereka curang padaku. Maka kuasakanlah atas mereka seorang pemuda Tsaqif yang angkuh lagi sombong, yang memakan kesejahteraannya, yang memakai kulitnya, dan menerapkan hukum-hukum jahiliyyah atas mereka.”

Al Hasan berkata, “Pada ketika itu Al Hajjaj belum lahir.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/152. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/169)

Diriwayatkan juga oleh Mu’tamir bin Sulaiman, bahwa ‘Ali berkata: “Pemuda yang angkuh, Amiir (pemimpin) dua kota yang memakai kulitnya dan memakan kesejahteraannya, membunuhi para tokoh penduduknya, menimbulkan perpecahan yang banyak, banyak menimbulkan kegelisahan, dan Allah menguasakannya ke atas kaumnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/152. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/169)

Sikap Para Ulama Di Bawah Kekuasaan Al Hajjaj Sebagai Pemerintah

Zubair bin ‘Adi berkata, kami mendatangi Anas bin Malik mengeluhkan perihal Al Hajjaj. Anas pun menjawab: “Bersabarlah, karena tidaklah datang sebuah zaman kecuali yang setelahnya akan lebih buruk sehingga kamu berjumpa dengan Rabb kamu. Aku mendengarnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Shahih Al Bukhari, no. 7068)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah (Wafat: 204H) berkata: “Ibnu ‘Umar (salah seorang sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang masih hidup) memencilkan diri di Mina pada hari-hari pertempuran (peperangan) antara Ibnu Az Zubair dengan Al Hajjaj, dan beliau (Ibnu ‘Umar) tetap shalat bersama (berjama’ah di belakang) Al Hajjaj.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/140)

Imam Al Bukhari rahimahullah (Wafat: 256H) meriwayatkan: Dari As Sahmi, “Aku mendatangi Aba Amamah, lalu beliau berkata: “Janganlah engkau mencela (mengutuk dan menghina) Al Hajjaj, karena beliau adalah penguasa bagi engkau dan bukan penguasa bagiku.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, At Tarikh Al Kabir, no. 83)

Aba Umamah tinggal di Syam, manakala As Sahmi tinggal di Iraq yang mana pemimpin di Iraq ketika itu adalah Al Hajjaj.

Fenomena kekejaman Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi dan penentangan terhadapnya banyak dikaitkan dengan salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu bab kewajiban mentaati pemerintah (dalam hal yang bukan maksiat pada Allah). Maka dalam hal ini, antaranya Imam An Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menjelaskan: “Mayoritas ulama Ahli Sunnah dari kalangan fuqaha’ (ahli fiqh), ahli hadits,  dan ahli kalam menyatakan bahwa pemimpin tidak dilengsertkan (atau dijatuhkan kepimpinannya) atas sebab kefasikannya, kezhalimannya, dan perbuatannya yang merampas hak-hak umat Islam, dan tidak boleh khuruj (keluar dari ketaatan) kepadanya. Tetapi umat Islam wajib untuk menasihati dan menundukkan hatinya dengan hadits-hadits (yang berbentuk ancaman) berkaitan perkara tersebut.

Al-Qadhi berkata, “Abu Bakar bin Mujahid telah menyatakan adanya ijma’ atas perkara ini, sebagian ulama telah membantah pernyataan tersebut dengan apa yang dilakukan oleh Al Hasan dan Ibnu Az Zubair, serta penduduk Madinah terhadap Bani Umayyah. Juga pertempuran dua kelompok besar dari kalangan tabi’in dan generasi awal dari umat ini terhadap Al Hajjaj bin Yusuf, bukan karena sekadar kefasikan, akan tetapi ketika dia telah mengubah sebagian syari’at dan menampakkan kekafiran.” Al Qadhi berkata lagi, “Perbedaan ini timbul pada awalnya, kemudian terjadi ijma’ (kesepakatan) yang melarang memberontak kepada pemerintah.” Wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 12/229)

Sikap Ulama Di Luar Kekuasaan Al Hajjaj

Al Hafizh Ibnu Katsir mencatat, “Berkata At Tsauri dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bahwa dia masuk ke kawasan Al Hajjaj tanpa memberi salam kepadanya dan tidak pula shalat di belakangnya (sebagai makmum).” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/140)

Jasa dan Ungkapan Nasihat Al Hajjaj

Imam Asy Sya’bi berkata: “Aku mendengar Al Hajjaj berkata dalam perbicaraannya yang tidak pernah diungkapkan oleh seorangpun sebelumnya. Beliau mengatakan:

“‘Amma ba’d, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan kefanaan (sifat tidak kekal) bagi dunia ini, dan menetapkan keabadian bagi akhirat. Maka tidak ada keabadian bagi yang telah ditetapkan kefanaan baginya. Oleh itu, janganlah keadaan dunia ini memperdayakan kalian dari keghaiban akhirat, dan redamlah panjangnya angan-angan dengan dekatnya ajal.” (Ibn ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/142. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/143)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H) berkata: “Al-Haitsam bin ‘Adi dari Ibn ‘Ayyasy (beliau berkata): ‘Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan pernah mengutus surat kepada Al Hajjaj, “Kirimkan kepadaku kepala Aslam bin ‘Abdul Bakri.”

Setelah surat tersebut sampai kepadanya, Al Hajjaj pun menghadirkan Aslam kepadanya lalu Aslam pun berkata, “Wahai Amir (pemimpin), engkaulah yang menyaksikan, sedangkan Amirul Mukminin tidak menyaksikan. Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti supaya kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.” (Surah Al Hujuraat, 49: 6)

Apa yang sampai kepadanya tentang diriku adalah bathil. Dan sesungguhnya aku menanggung 24 orang wanita, mereka tidak memiliki pendapatan selain dariku, dan mereka sekarang ada di pintu.”

Maka Al Hajjaj pun memerintahkan agar mereka dibawa masuk. Setelah mereka dihadirkan, salah seorang dari mereka berkata,

“Aku adalah bibi dari pihak ayahnya.”
Yang lain berkata, “Aku bibi dari pihak ibunya.”
Yang lain berkata, “Aku saudara (adik-beradik) perempuannya.”
Yang lain pula berkata, “Aku anak perempuannya.”
Dan yang lain berkata pula, “Aku isterinya.”
Lalu seorang anak perempuan maju ke depan, ia berumur antara 8 hingga 10 tahun, maka Al Hajjaj pun berkata, “Siapa engkau?”
Anak perempuan tersebut berkata, “Aku anak perempuannya.”

Kemudian anak perempuan itu berkata, “Semoga Allah memperbaiki Amir (pemimpin).” Lalu ia tunduk dan berkata:

“Wahai Hajjaj, tidakkah engkau saksikan kedudukan anak-anaknya, bibi-bibinya yang semuanya memerlukannya setiap malam? Wahai Al Hajjaj, berapa banyak yang telah engkau bunuh bila engkau membunuhnya? Delapan, sepuluh, dua, dan empat? Wahai Al Hajjaj, engkau boleh berlaku baik terhadap kami dengan memberi nikmat, atau engkau bunuh saja kami bersamanya.”

Maka Al Hajjaj pun menangis, dan beliau berkata:
“Demi Allah, aku tidak membantu untuk menyusahkan kalian dan tidak akan menambahkan kelemahan kepada kalian.”

Kemudian Al Hajjaj pun mengutus surat kepada ‘Abdul Malik (khalifah) tentang apa yang dikatakan oleh lelaki tersebut dan apa yang dikatakan oleh anak perempuannya. Lalu ‘Abdul Malik pun mengutus surat kepada Al Hajjaj yang memerintahkannya supaya membebaskan lelaki tersebut dan menyambung hubungan baik dengannya, serta berbuat baik kepada anak perempuan tersebut dan mengawalnya setiap waktu.” (Ibn ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/145-146. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/144)

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Dikatakan bahwa Al Hajjaj pada suatu hari berkhuthbah lalu berkata:
“Wahai manusia, bersabar menahan diri terhadap larangan-larangan Allah adalah lebih mudah berbanding bersabar terhadap azab Allah.”

Lalu seorang lelaki berdiri kepadanya lalu berkata, “Celaka engkau wahai Hajjaj! Betapa buruknya wajah engkau dan betapa sedikitnya rasa malumu. Engkau melakukan apa yang engkau lakukan (dari berbagai jenis keburukan – pent.) lalu sekarang engkau mengatakan perkataan ini? Engkau telah rugi, dan sia-sialah usaha engkau.”

Maka Al Hajjaj mengatakan kepada pengawalnya, “Tangkap dia.”

Setelah dia selesai dari khuthbahnya, dia pun berkata kepada lelaki tersebut, “Apa yang membuat engkau berani terhadapku?”

Lelaki tersebut pun menjawab, “Celaka engkau, wahai Hajjaj, engkau berani terhadap Allah, lalu kenapa aku tidak berani terhadap engkau? Siapakah engkau hingga aku tidak berani terhadapmu, sementara engkau berani terhadap Allah, Rabb sekalian alam?”

Al Hajjaj pun berkata, “Bebaskan dia.”

Lalu ia pun dibebaskan.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/144-145

– pent. = penterjemah. 

Al Hajjaj bin Yusuf: pemimpin yang terkanal dengan kezaliman nya namun dia berjasa besar bagi islam ~ lucky varozdaq
http://luckyvarozdaq.blogspot.com/2013/08/al-hajjaj-bin-yusuf-pemimpin-yang.html


Tiada ulasan: